Reportase

7th APETNA CONFERENCE

Asia Pacific Enterostomal Therapy Nursing Association

14 – 16 April 2017
Institut Pertanian Bogor International Convention Center

i.underline

asiapasifik

Pada 14 – 16 April 2017 di Bogor-Indonesia tepatnya di Institut Pertanian Bogor International Convention Center telah berlangsung pertemuan ke-7 perawat luka, ostoma dan inkontinensia se-Asia Pasifik.

Sejak konferensi APETNA pertama pada tahun 2003 di Kuala Lumpur Malaysia, praktik perawatan luka, stoma, dan kontinensia di kawasan Asia Pasifik telah menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Hal ini ditandai dengan peningkatan jumlah World Council of Enterostomal Therapy (WCET) dan diakuinya program pendidikan perawat terapi enterostomal berkualitas (ETN) di beberapa wilayah.

Akibatnya kualitas perawatan dan pelayanan untuk pasien dengan luka, ostomy dan kontinensia menjadi semakin membaik. Hal ini disebabkan para perawat terapi enterostomal (ETNs) dan profesional kesehatan lainnya yang bekerja di bidang perawatan luka, stoma dan kontinensia selalu mencari peluang pengembangan profesional untuk memperbarui dan memperbaiki pengetahuan, keterampilan dan praktik. Menyimak perkembangan tersebut, penting untuk ETNs untuk berbagi hal-hal terbaru dalam evidence based practice.

Dengan menggabungkan pertemuan dua tahunan APETNA dengan pertemuan ilmiah Jiem-3 (Usaha Bersama Indonesia dan Malaysia) dan ISMWOC 3 (Pertemuan Ilmiah Indonesia perawat luka, ostoma dan kontinensia) diharapkan akan ada penyebaran pengetahuan antar ETNs se-Asia Pasifik. Mengingat keragaman budaya dan situasi politik yang berbeda antar negara Asia Pasifik, penting untuk mengembangkan saling pengertian tentang karakteristik yang unik dari masing-masing negara, yang dapat memungkinkan ETNs untuk mengembangkan perspektif yang lebih luas dalam meningkatkan kualitas praktik.

Tujuan umum dari konferensi ini untuk meningkatkan kualitas perawatan pasien di luka, ostoma dan kontinensia di Asia Pasifik dengan tema konferensi: Create Enormous Opprtunity For Future Innovation.

Sedangkan tujuan khususnya untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman se-Asia Pasifik, membahas dan merumuskan inovasi pedoman best practice guidelines se Asia Pasifik, memperkenalkan manfaat praktik perawat Enterostomal Therapy kepada masyarakat global, memperkenalkan teknologi terbaru dalam luka, ostoma dan kontinesia.

Pada hari pertama, pembukaan konferensi dibuka oleh Menteri Kesehatan RI dan kemudian dilanjutkan dengan 2 pemateri yang diikuti dengan diskusi. Materi: Recognition and Management of Wound Infections dengan pemateri dari Singapore General Hospital, Ong Cho Eng. Beberapa hal yang dibahas dalam materinnya: penentuan topical therapy harus berdasarkan wound bed (warna dasar luka), apakah luka infeksi, luka epitel atau granulasi atau kah jaringan nekrotik. Dengan antimikrobia dressing nanocrystalin sebagai metode terkini digunakan untuk menejemen luka dengan dressing. Materi selanjutnya adalah Capturing The Essence of Wound Care Evaluation dengan pemateri: Saldy Yusuf,Ph.D, ETN. Dalam pembahasannya menyebutkan tingginya kasus Diabetic Foot Ulcer (DFO) di Indonesia membuat praktisi selalu berinovasi untuk mempercepat penyembuhan luka. Usaha tersebut dengan mengembangkan assesement toll yang lebih spesifik. Salah satunya dengan memanfaatkan thermal camera & infrared camera yang dapat di-download pada Appstore smartphone untuk mengidentifikasi sejauh mana proses inflamasi yang terjadi pada luka sebagai sebuah kemajuan proses penyembuhan luka.

Hari kedua peserta dibagi menjadi 3 kelompok sesuai tema workshop yang terdiri dari wound, stoma dan continence. Ketiga workshop tersebut membahas tentang temuan-temuan ter-update berdasar evidence based dari berbagai negara Asia Pacifik dalam kerangka promote healing, quality of life and cost effectiveness.

asia1Pada workshop tentang wound terdapat pembicara dari Indonesia yang tergabung dalam sejumlah peneliti dari Universitas Hassanudin Makasar memaparkan tentang Hylocerus Polyrhizus yang berperan sebagai cytokines yang dapat meningkatkan proses penyembuhan luka pada fase proliferasi. Pembicara lain dari Australia, Prof. Kerylin Carville memaparkan tentang inovasi dalam peranostik luka. Dengan memanfaatkan teknologi informasi yang sekarang berkembang dalam adekuasi perasnostik luka sehingga didapatkan penanganan yang lebih akurat. Pembicara yang lain dari Taiwan, Malaysia dan Thailand.

Workshop tentang stoma menampilkan pembiacara dari Thailand, Wichitta Chaiyaruk yang memaparkan tentang pendekatan multi disiplin untuk penanganan peristoma skin care dan pencegahan iritasi setelah dilakukan illeustomy. Dengan menggunakan “dusting technic and organizing” secara efektif meningkatkan kulitas hidup pasien dengan ostomate. Pembicara lain pada workshop ini berasal dari Indonesia dan Malaysia.

Continence care workshop menampilkan pembicara dari Australia, Carmen George. Dalam paparannya tentang manajemen dermatitis yang terkait dengan inkontinensia. Paparan ini mengenai insiden dan prevalensi dermatitis pada inkontinesia berikut manajemen terkait inkontinensia. Pembicara lain berasal dari Singapore, Malaysia, Korea Selatan dan Thailand.

Pada hari terakhir konferensi beberapa pakar keperawatan menyampaikan paparannya. Prof. Budi Ana Keliat dari Indonesia, menyampaikan motivasi kepada peserta dengan pesan harus merasa bangga menjadi perawat luka, ostoma dan inkontinensia. Prof Rohani dari Malaysia memaparkan tentang komunikasi terapeutik yang efektif pada perawatan pasien dengan luka, ostoma dan inkontinensia sedangkan Susan Stelton dari Amerika Serikat menyampaikan praktik enterostomal therapy pada aera klinik di Amerika Serikat. Sesion berikutnya adalah berbagi pengalaman tentang perawatan luka, ostoma dan inkontinensia dari berbagai negara, beberapa keuntungan dan perkembangan di negara-negara peserta konferensi.

Konferensi ditutup dengan penyampaian gagasan tentang bagaimana menciptakan kesempatan dan peluang yang terbesar dengan inovasi di masa mendatang bagi perawat luka, ostoma dan inkontonensia sesuai dengan thema konferensi berupa “Create Enormous Opportunity to Future Innovation”.

Reporter: Tri Yuni Rahmanto, MPH