Atribut Kepemimpinan Sebagai Dasar Sinergi Antara

Pemimpin Klinik Dengan Direktur RS Pendidikan dan Rujukan

Ruang Senat FK UGM
Rabu, 26 juli 2017, 12.00-13.30 WIB

i.underlineatribut_kepemimpinanAtribut kepemimpinan di rumah sakit rujukan sebagai pendukung sistem layanan rujukan sedang diteliti dan dikembangkan oleh PKMK dan Magister Manajemen RS FK UGM.  Hasil awal dari penelitian dan pengembangan tersebut  dipaparkan pada Seminar Atribut Kepemimpinan Sebagai Dasar Sinergi Antara Pemimpin Klinik Dengan Direktur RS Pendidikan dan Rujukan yang diselenggarakan oleh FK UGM.  Sebagai pembicara, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, Ph.D (Ketua Dept. HPM FK UGM), pembahas dr. Tri Hesty W, Sp. M (Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan Kemenkes) dan Dr. dr. Supriyantoro, Sp. P, MARS (Dewan Pengawas RSUP Persahabatan), serta moderator Dr. dr. Andreasta Meliala, DPH, M. Kes, MAS.   Kegiatan ini dilakukan secara webinar dan diikuti secara online oleh direksi RS Pendidikan dan Rujukan Nasional, Dewan Pengawas RS Pendidikan, pemimpin klinis, dan peserta terkait.

Tujuan dari seminar ini untuk membahas sinergi kedua jenis pemimpin di rumah sakit yaitu pemimpin struktural dan klinis di RS Pendidikan dan Rujukan Nasional, rencana usulan atribut kepemimpinan sebagai salah satu alat seleksi direktur ke Kemenkes, dan rencana kegiatan pengembangan.   Prof. Laksono memaparkan mengenai prinsip sinergi yang pertama dapat dijabarkan pada aktivitas layanan dan aktivitas pendukung untuk mencapai target dalam berbagai indikator, sedangkan prinsip yang kedua digambarkan bahwa direktur sebagai supportive leader mendukung dan memfasilitasi dokter – dokter spesialisnya sebagai clinical leader.

Gambaran situasi saat ini, aktivitas layanan rujukan nasional masih belum maksimal, pengembangan pemimpin klinis masih sulit, dan aktivitas pendukung layanan rujukan belum jelas.  Hal ini akan sulit untuk dicapai pada 2019 seperti yang tertulis pada Permenkes 390 / 2014.  Selain itu, masih terdapat kesenjangan dengan sistem rujukan rumah sakit yang ada di negara maju seperti NUH dan Mayo Clinic.  Jika situasi ini benar tentunya memprihatinkan dan siapa yang peduli akan hal ini ?  Untuk menjadi rumah sakit rujukan nasional dan mempunyai pelayanan rujukan nasional, selain Kemenkes, harus ada pemimpin klinis yang “memiliki niat” dan direktur yang benar-benar “pemimpin” sebagai pihak yang peduli, dan tentunya harus didukung dengan sistem manajemen yang baik.

Pengamatan yang telah dilakukan sampai saat ini menunjukkan bahwa adanya sinergi yang kurang dalam kepemimpinan klinis dan struktural di rumah sakit sehingga terjadi kelemahan konsepsual dalam kepemimpinan strategis di RS Pendidikan dan Rujukan Nasional.   Hal tersebut seperti kapal induk yang berat dimana para spesialis tertier cenderung praktek sore di luar RS Pendidikan, ada jarak pemisah antara direksi dan spesialis, misi pendidikan terganggu, dan pelayanan rujukan nasional susah ditemukan.  Resiko kegagalan sinergi ini akan membuat pelayanan kedokteran di Indonesia macet.  Untuk itulah diusulkan berbagai indikator untuk menjadi RS Pendidikan dan RS Rujukan Nasional.

atribut

Salah satu indikator kinerja yang sudah disetujui adalah atribut kepemimpinan sebagai salah satu alat untuk seleksi direktur RS Pendidikan yang berfungsi sebagai RS Rujukan Nasional.  Hasil penelitian atribut kepemimpinan yang telah dilakukan pada direktur RS Pendidikan dan Rujukan Nasional menggambarkan bahwa para direktur tersebut sudah memiliki visi tentang RS Pendidikan dan Rujukan Nasional namun masih kurang dalam menggerakkan komitmen para spesialis untuk fokus pada layanan rujukan tertier.

Supriyantoro mengemukakan bahwa perlunya sinkronisasi antar pemimpin baik direktur, klinisi, dan komite medik. Selain itu harus ada peningkatan kompetensi direktur di tingkat manajerial sehingga dapat mengintegrasikan antara layanan dan pendidikan. Tenaga klinisi juga harus disertifikasi sebagai tenaga pendidik.  Saat ini belum ada instrumen baku untuk memilih calon pemimpin struktural di rumah sakit, pada umumnya pemilihan masih berdasarkan latar belakang pendidikan, track record, maupun acceptance.  Ke depannya mesti dijabarkan kompetensi direktur.

Sebagai contoh, sinergi antara direktur dan klinisi yang dapat digunakan sebagai evidence adalah RSJPD Harapan Kita.  Di rumah sakit rujukan nasional ini sudah terdapat 6 teamwork service terkait layanan tersier didukung oleh klinisi senior sebagai pemimpin klinis dan bertanggung jawab terhadap kualitas layanan.  Penilaian teamwork service tersebut baik secara individu maupun layanan dinilai oleh komite medik dan komite mutu.  Seperti yang dikemukakan oleh Dr. dr. Hananto Andriantoro, Sp. JP (K)., MARS, FICA sebagai direktur harus mendukung para klinisinya dengan meningkatkan kompetensi para dokter ke berbagai international center, memenuhi kebutuhan alat kesehatan untuk menunjang layanan tertier, bahkan meningkatkan kesejahteraan para klinisi salah satunya dengan layanan poliklinik eksekutif dengan model fee for service untuk klinisinya.  Di RSJPD Harapan Kita para klinisi didorong untuk menjadi Klinisi Kelompok A.

Hesti juga menambahkan bahwa saat ini Kemenkes baru mulai membuat kriteria kompetensi rumah sakit rujukan. Untuk kriteria kompetensi direksi masih berdasarkan Permenkes 971/2009, namun ke depannya perlu dikembangkan lebih lanjut karena perlu didetailkan berdasarkan jenis rumah sakit.

Closing statement dari seminar ini adalah rencana tahapan beberapa kegiatan seperti menyusun naskah akademik untuk usulan, mengajak para anggota panitia seleksi direktur mencoba menggunakan draft atribut, mengirimkan usulan terkait ke Kemenkes, dan mengembangkan modul-model kepemimpinan.

Oleh : Elisabeth Listyani.

Unduh Materi