Hospital Management Asia 2016

hospital1Laporan dari Ho Chi Minh City, Vietnam

Pembukaan

Oleh: Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M. Sc, PhD

Laporan 1: Pembukaan

Pada Rabu dan Kamis, 7  – 8 September  2016 telah diselenggarakan Pertemuan Tahunan Hospital Management Asia di Hotel Sheraton, Ho Chi Minh (d/h Saigon) Vietnam. Kegiatan pertemuan ilmiah dan expo manajemen rumah sakit terbesar di Asia ini dihadiri oleh sekitar 1000 peserta dengan 120-an pembicara. Dalam kegiatan ini diselenggarakan pula pemberian Award untuk RS-RS di Asia yang prestasinya menonjol. Dari UGM hadir Prof. Laksono Trisnantoro sebagai salah satu Jury Award dan pembicara mengenai transisi sistem manajemen RS pemerintah di Indonesia.

Kegiatan HMA ini beersifat tahunan dan telah berlangsung lebih dari 15 tahun.  Vietnam sudah 3 kali menjadi tuan rumah. Sementara negara tetangga, yaitu Bangkok telah berkali-kali menjadi tuan rumah. Event HMA berikutnya(2017) akan diselenggarakan di Manila. Sementara, Indonesia belum pernah menjadi tuan rumah  kegiatan ini. Laporan mengenai isu-isu kunci dapat diikuti melalui website ini.

Pembukaan dilakukan pukul 09.00 waktu setempat oleh Richard Ireland sebagai managing director EO, Clarion Events. kemudian, acara dilanjutkan dengan pidato pembukaan oleh Dirjen Pelayanan Medik Kemenkes Vietnam. Sementara, pembukaan resmi dilakukan oleh Menkes Vietnam.

Prof. Nguyen Thi Kim Tien

menkes-vietnam

Pada intinya Menkes Vietnam menyatakan Vietnam yang mempunyai lebih dari 1000 RS, serta bertekad untuk mengembangkan mutu, efisiensi, dan equity. Vietnam bertekad untuk menjadi pelaku internasional.

Untuk itu perlu didukung oleh berbagai langkah strategis seperti pemasangan telemedicine, hingga perbaikan sistem pembiayaan. Masalah yang ditemui adalah overcrowding, skills para manajer RS yang masih kurang. Sebagian dari mereka adalah dokter spesialis, profesor yang tidak terlatih dalam manajemen rumah sakit, khususnya dalam pembiayaan, IT, serta manajemen fasilitas, termasuk bagaimana cara menggunakan sumber daya yang terbatas. Tantangan yang muncul adalah sulit mengukur produktivitas rumah sakit di Vietnam. Oleh karena itu, pertemuan semacam HMA ini sangat penting untuk mempelajari berbagai ilmu manajemen yang berasal dari luar negeri. Kami berharap setiap tahun The Organizing Committee untuk melakukan proyek spesial antar negara untuk mengukur mutu pelayanan rumah sakit, ungkap Nguyen.

Vietnam akan mengembangkan tempat Pelatihan Manajemen untuk Direktur RS dan Manajer Pelayanan Kesehatan. Vietnam membutuhkan lebih banyak ketrampilan untuk manajemen, terutama dalam keuangan, SDM, sampai manajemen hubungan sosial dengan masyarakat. Menteri Kesehatan Vietnam menyatakan kami berharap ada kerjasama antara Hospital Management Asia dengan Kementerian Kesehatan Vietnam untuk pengembangan ini. Semoga harapan ini dapat tercapai.

Laporan 2

Oleh: Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M. Sc, PhD

Laporan 2: Patient Experience

Getting from better to best in patient experience: The real role of healthcare managers and physicians in quality and safety

Pembicara:

Ms-Paula-Wilson

Ms. Paula Wilson, President & CEO, Joint Commission International (USA)

Moderator: Assoc. Prof. Luong Ngoc Khue, General Director of Administration of Medical Service, Ministry of Health Vietnam

Ms Wilson membahas konsep Patient Experience yang merupakan inti atau fokus dari Patient Centered Care. Patient Experience merupakan sebuah budaya yang harus dibangun oleh rumah sakit. Berbagai poin pembicaraan yang disampaikan Ms Wilson antara lain:

  • Mengapa penting? Di Amerika, pengalaman pasien akan mempengaruhi bonus pembayaran. Selain itu, terdapat transparansi di masyarakat. Patient experience didata melalui survei oleh Hospital Consumer Assessment of Health Care Provider System (HCAHCPS). Hasilnya dipasang di internet sehingga dapat diakses masyarakat.
  • Patient experience (Pengalaman Pasien) yang baik akan memicu Patient Engagement yang diharapkan juga akan dapat merubah life style pasien dan memperbaiki
  • Patient Experience yang baik akan memperbaiki sistem bisnis di RS. Dua diantaranya ialah meningkatkan pendapatan rumah sakit, dan akan meningkatkan citra RS.
  • Perkembangan terbaru: ada beberapa RS yang mengangkat direksi baru yaitu Chief Experience Officer, misalnya di Cleveland Clinic. Hal ini merupakan trend baru, chief ini bertugas menjamin patient experience yang baru, melatih para staf termasuk untuk komunikasi, mengelola waiting time dan komunikasi di bed side.
  • Apa yang perlu dilakukan kita? Perlu melakukan survei ke pasien, walaupun survei tidak selalu sempurna. Melalui survei tersebut, diharapkan mampu meningkatkan kemampuan mendengarkan suara pasien.

Sebelum mengakhiri diskusi ada 4 hal yang menurut Ms Wilson mempengaruhi Patient Experience:

  1. Memahami penderitaan pasien, termasuk saat mereka harus menunggu perawatan.
  2. Menciptakan kenyamanan secara radikal, misal klik, panggilan sampai kedatangan staf.
  3. Mengaplikasikan Prinsip 90/5, dengan pembagian 90% yang dibutuhkan perawat, harus tersedia dalam waktu 5 detik
  4. Menghargai staf Anda dan memberdayakannya.

Untuk itu, para peserta diharapkan para peserta membawa pulang beberapa hal kunci:

  • Kepemimpinan dan budaya organisasi merupakan kunci untuk suskesnya pengalaman pasien. Namun, kedua hal ini juga bisa menjadi penghambat besar.
  • Prioritas yang lain dan hambatan untuk perubahan merupakan hambatan terbseasr untuk usaha memperbaiki pengalaman pasien.

Final thought dari Ms Wilson:finat

Laporan 3

Oleh: Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M. Sc, PhD

Laporan 3: Kehadiran Lembaga Konsultan Manajemen di Pertemuan Ini

Laporan ke-3 ini membahas kehadiran firma-firma konsultan manajemen rumah sakit yang sangat menonjol. Dalam pertemuan ini, terlihat banyak sekali lembaga konsultan manajemen RS yang membuka booth.

firma-firmaMereka adalah firma-firma konsultan  manajemen informatika, manajemen bangunan dan arsitektur, sampai ke teknologi kesehatan.

Dibandingkan dengan di Expo PERSI, ARSADA, dan berbagai event pameran  yang jarang ada firma lembaga konsultan manajemen (Lihat gambar).

Juga ada penerbit tulisan ilmiah (BMJ) dan Wolters Kluwer

Sehingga, suasana akademik yang mengembangkan ilmu pengetahuan terasa di pertemuan ini.

Pembahasan sebagai Refleksi untuk Indonesia:

  • Manajemen rumah sakit merupakan sebuah sektor yang berbasis ilmu pengetahuan. Pertemuan-pertemuan seperti ini terlihat mempunyai aspek pengembangan ilmu manajemen yang dinamis. Pertemuan tidak digunakan hanya untuk kepentingan bisnis alat dan fasilitas kedokteran.
  • Perusahaan konsultan manajemen banyak di dunia dan mereka berani melakukan investasi (sebagian besar dari Eropa dan Amerika) untuk pasar Asia. Ada market untuk firma konsultan manajemen RS dan ada pengguna yang mau dan mampu membayarfirma-konsultanContoh gambar di sampingadalah firma konsultanmanajemen bangunan dan arsitektur.
  • RS-RS di Indonesia tentunya juga membutuhkan dukungan konsultan manajemen, namun jarang sekali ada konsultan manajemen RS di Indonesia yang berbentuk firma serta mempunyai tenaga ahli yang cukup. Para pakar manajemen RS jarang yang berperan sebagai konsultan..Sebagian besar ahli manajemen RS lebih menyukai bekerja sebagai surveyor
  • Apa implikasinya? Jika RS-RS di Asia Tenggara dan Asia mau dan mampu menggunakan firma konsultan manajemen yang baik, ada kemungkinan kinerja mereka membaik. Sementara itu, RS-RS di Indonesia jarang yang menggunakan jasa firma konsultan manajemen RS . Dengan asumsi konsultannya baik, jadi ada kemungkinan pula kinerja RS-RS di Indonesia tidak sebaik yang di luar negeri. Sekali lagi masih kemungkinan.

Pertanyaan-pertanyaan reflektif:

  1. RS-RS di Indonesia dan jaringan RS: Apakah membutuhkan konsultan manajemen? Jika ya, apakah mau dan mampu membayar firma konsultan manajemen dari luar negeri? Atau dari dalam negeri?.
  1. PERSI, ARSADA, dan berbagai asosiasi: Apakah sudah saatnya mengalokasikan tempat untuk disewa oleh konsultan manajemen dalam Expo? Apakah sudah waktunya ilmu manajemen dibahas secara komprehensif di dalam kongres?
  1. Untuk Perguruan Tinggi dan Lembaga Konsultan Manajemen: Apakah situasi saat ini perlu diperhatikan agar terjadi pengembangan kemampuan peneliti dan konsultan manajemen kesehatan di Indonesia? Apakah sudah ada rasa kita tertinggal? Atau masih tenang-tenang saja?.
Laporan 4

Oleh: Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M. Sc, PhD

Laporan 4:

jci-forum

Diskusi JCI:

 CEO Wanita vs CEO Laki-laki, CEO Dokter vs CEO Non-Dokter, Apakah Lebih Baik untuk RS?

Panelis:

  1. Ms Roberto Lipson. Director United Family Health Care China, Chindex International
  2. Dr. Pauline Tan. Chief Nursing Officer, MoH Singapore
  3. Dato’ Dr. Jacob Thomas. Chairman Ramsay Sime Darby Health Care. President Association of Private Hospitals of Malaysia

Beberapa poin dari Dr. Jacob Thomas :

jacobCEO mempunyai peran penting dalam penanganan RS. Sistem kesehatan semakin kompleks dan butuh kemampuan CEO

  • 7 Ciri Leadership untuk CEO RS meliputi: Servant Leadership; Communication, termasuk kemampuan mendengarkan; Mentorship; Being a Model termasuk tidak pesimistis dan jangan terlalu sering pergi; Terhubung dengan Masyarakat di lingkungan RS; mempunyai Sense of Humor; membutuhkan Keseimbangan (Balance) termasuk melayani kelompok masyarakat kelas atas dan bawah.
  • Bagaimana dengan posisi CEO Wanita vs CEO Laki-laki?. Biasanya CEO laki2 lebih percaya diri, dan tidak banyak mempunyai time-constraint karena harus mengurus keluarga?. Namun ditegaskan bahwa CEO wanita atau CEO laki-laki sebenarnya bukan isu. Hal yang penting justru CEO dokter vs CEO non Dokter, bagaimana perbedaannya?
  • Jika dia seorang CEO yang bukan dokter maka harus didampingi tenaga medik yang kuat. Sebaliknya kalau CEO-nya seorang dokter, harus didampingi ahli ahli manajemen

Pendapat R. Lipson :

lipsonBeberapa stereotype

tidak semuanya benar, termasuk antara

CEO Wanita dan CEO laki-laki.

  • Kasus Kepemimpinan di United Family Health Care China. Apakah harus dokter, apakah harus laki-laki, apakah bukan wanita. ’Sejarah dokter di China dan di berbagai tempat menunjukkan bahwa profesi dokter banyak dilakukan oleh laki-laki. Tapi perawat lebih banyak oleh wanita.
  • Di Amerika Serikat, butuh waktu lama sehingga terjadi keseimbangan genderdalam leadership organisasi. Saat ini dokter wanita lebih banyak, namun pemimpin wanita relatif lebih sedikit.
  • Majalah Fortune menuliskan hanya 4.60% organisasi bisnis yang mempunyai CEO. Angka yang lebih tinggi ada RS Amerika Serikat yaitu 19%, di United Family Health China: 33%.
  • Persentase Wanita di Manajemen: China (Business) 20%…di US: 51.40%, di UFH Group: 62%. Perbandingan memprihatinkan di pemerintahan China yang hanya 6%.

Poin-poin Dr. Tan:

  1. Dr.Tan_CEO bukanlah satu satunya penentu organisasi.Tidak hanya CEO yang memutuskan di lembaga RS.Hal yang penting adalah bagaimana sebuah lembaga meninggalkan dari one-man/one woman leadership?. Bagaimana caranya agar terjadi group decision making?
  1. Apa batasan kemampuan dari CEO?. Mereka harus mempunyai pemahaman medik, community partners, dan lain-lain. Hal ini mirip dengan ahli Diabetes yang tidak hanya ahli medik tetapi juga ahli sosial. Jadi CEO harus mempunyai berbagai kemampuan dan kapasitas across dan beyond Seorang CEO bisa non dokter dan bisa wanita. Sangat subyektif dan ini masalah perspektif saja.
  1. Isu ketiga adalah Growing Leadership Pipeline. Bagaimana persiapan untuk mengembangkan leader sejak muda?. Bagaimana sistem pengembangannya sehingga ketika seseorang CEO pensiun, sudah ada penggantinya yang tidak kalah baik.
Laporan 5

Oleh: Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M. Sc, PhD

Laporan 5:

Diskusi Panel:

How to make a hospital SWOT analysis and how to use it for improving hospital performance?

Chair & Moderator: Dr. Rupali Basu, President & CEO, Apollo Group of Hospitals (India)

Panelis:

  • Ms. Rosalie Montenegro, President & CEO, Makati Medical Center (Philippines)
  • Dr. Rahul Menon, Chief Executive Officer, Aster MIMS-Calicut (India)
  • Dr. Mohamed Ahmed Hamdy, Egypt Projects & Business Development Director, Andulasia Group for Medical Services (Egypt)

Ms. Rosalie Montenegro, President & CEO, Makati Medical Center (Philippines) Current approaches to strategic planning, and how to do it.

rosalie

Rosalie bukan seorang dokter, pernah bekerja

di berbagai CEO di berbagai perusahaan non

kesehatan seperti automobile dan perbankan.

Dalam uraiannya, Rosalie menyatakan bahwa langkah-langkah Strategy Development masih sama yaitu:

Analisis situasi secara keseluruhan (internal dan eksternal), Menetapkan misi yang jelas dan visi yang diinginkan di masa mendatang, Set clear goals, Menetapkan Kesempatan; Menetapkan indikator sukses, dan seterusnya. Dalam konteks tersebut, Rosalie menekankan bahwa Langkah 1 sangat penting karena penyusun strategi RS harus mampu untuk memahami tren yang terjadi.

Tren-tren tersebut antara lain:

  • Mindset pasien yang berubah, mempunyai akses ke internet dan mempunyai health record pribadi
  • Trend industri kesehatan: RS umum yang besar berubah menjadi klinik spesialis, diagnostic center yang personal serta kompetitif dengan cost yang lebih kecil namun tetap baik. Sekarang dan di masa depan akan berubah lagi: adanya patient choices, tidak ada limit geografis, Excellent service; estern-western synthesis, genome specific treatment approach.
  • Semakin banyak orang tua itu berarti aging population dan terjadi declining Birth Rates
  • Cost kesehatan yang meningkat
  • Economic Downturn global.
  • Trend Health Care Industry: Peningkatan spesialisasi dan customized treatment modalities: Stem Cell, Immunotherapy, robotics.
  • Telemedicine/TeleHealth: Remote and Virtual Diagnostic/Treatment
  • Digitalisasi Sistem Kesehatan dengan Big Data
  • Perkembangan Askes dan UHC
  • Outsourcing kegiatan non-klinis dan bukan inti.
  • Munculnya jaringan RS
  • Adanya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dan kekurangan professional dokter.

Kesimpulan:

  • Penyusun strategi di RS harus mampu dan berani memetakan masa depan melalui analisis tren.
  • Kemudian memutuskan apakah tren-tren ini merupakan Kesempatan atau Ancaman.

Dr. Rahul Menon, Chief Executive Officer, Aster MIMS-Calicut (India)

Breakthroughs in technology and medical science that will affect the way hospitals conduct themselves. 


Apa yang disebut Pelayanan Kesehatan?rahul

Apakah ada yang kuno dan ditinggalkan

seperti mesin ketik? Ataukah ada yang

mampu menggunakan berbagai terobosan teknologi.

Menurut Dr. Rahul Menon, ada 3 terobosan yang perlu diperhatikan penyusun strategi RS:

  1. Terobosan Teknologi dipandang dari pasien:3 D Printing, Robotic Surgery, Telemedicine, telementoring, telesurgery, Telestration, dan Socrates robotic collaboration system.
  2. Terobosan teknologi dipandang dari Health Managers: Hospital Information System; Real Time Communication seperti Group messaging, Broadcast, Social media, Mobile Devices; Management Information System
  3. Terobosan teknologi dipandang dari Masyarakat: Penggunaan berbagai hal seperti Website, Social Media, WA, Youtube, TV dalam komunikasi dengan rumah sakit dan lembaga pelayanan kesehatan.

Tantangan: Bagaimana RS-RS mengaplikasikan terobosan teknologi ini dalam pelaksanaan di rumah sakit?  Tanpa menggunakan terobosan teknologi, RS mungkin tidak berkembang.

Dr. Mohamed Ahmed Hamdy, Egypt Projects & Business Development Director, Andulasia Group for Medical Services (Egypt)

A crystal ball approach for what might lie ahead.

 hamdyDr. Hamdy:

RS dan tenaga kesehatan saat ini mungkin

terbenam di data internal RS, begitu banyak data.

Bagaimana sistem Crystal Ball dapat membantu untuk menangani data internal di RS.

Dr Hamdy menggambarkan Crystal Ball sebagai sebuah sistem yang powerful untuk mengidentifikasi tren atau apa yang akan terjadi dengan menganalisis data di rumah sakit. Hasilnya untuk menjawab:

Mengapa ada perubahan?

Kapan dan bagaimana perubahan di masa mendatang?

Hasilnya adalah penyusun strategi RS tidak menunggu-nunggu.  Dengan sistem ini, tindakan yang dapat dilakukan adalah meningkatkan mutu dengan cara prediksi kegagalan-kegagalan proses;  melakukan  cost contaiment; mengurangi fraud dan berbagai pemborosan; serta mencegah readmisi yang tidak perlu.

Kesimpulan:

Penyusunan Strategic Plan masih dibutuhkan oleh RS, namun harus berbasis data yang tepat dan menggunakan berbagai terobosan teknologi.

Laporan 6

Oleh: Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M. Sc, PhD

Laporan 6:

Hari kedua pertemuan HMA 2016 diawali dengan penyerahan bendera dari penyelenggara Vietnam ke Filipina yang akan menjadi tuan rumah di tahun 2017. Hal ini menjadi perhatian, karena hingga tahun ini Indonesia belum pernah menjadi tuan-rumah.

pertemuan-HMADi samping itu,

partisipasi manajer rumah sakit Indonesia dalam

pertemuan HMA

masih sangat rendah

dibandingkan Filipina dan Vietnam.

Sebagian besar peserta Indonesia yang

hadir adalah dari RS Swasta yang

berbentuk Jaringan.

Dalam konteks apa yang dibahas dalam pertemuan, memang HMA terkesan lebih banyak membahas RS Swasta dibanding dengan RS pemerintah. Sesi-sesi mengenai RS pemerintah sangat sedikit, dengan peserta yang sedikit. Hal ini menjadi tantangan menarik karena manajer RS pemerintah tidak mempunyai forum internasional yang baik untuk diikuti. Hal ini perlu dibahas dengan pihak HMA dan berbagai asosiasi RS seperti ARSADA dan ARSPI.

Memang menjadi pertanyaan; jika diselenggarakan di Indonesia, siapa yang akan menjadi penyelenggaranya? Asosiasi RS seperti PERSI, ARSADA, ARSSI? Apakah bisa bersama dengan PERMAPKIN dan juga Penyelenggara Pendidikan S2 dan S1 Manajemen Rumah sakit?

Laporan 7

Oleh: Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M. Sc, PhD

Laporan 7:

Sesi ini membahas topik dengan judul:

What does the future of patient care look like, what skills will be needed and what can hospitals do to prepare for it

Panelisnya antara lain:

1. Mrs. Le Thuy Anh, Deputy General Director, Operation, Vinmec International Hospital Joint Stock Company (Vietnam)

2. Mr. David Leach, Senior Vice President, Enterprise (USA)

3. Dr. Dilshaad Ali Bin Abas, Project Development Executive, FV Hospital (Vietnam)

4. Moderator: Mr. Seang Teak Tan, Group Chief Operating Officer, Hoan My Medical Corporation (Vietnam)

Poin-poin penting yang disampaikan:

Mrs. Le Thuy Anh, Deputy General Director, Operation, Vinmec International Hospital Joint Stock Company (Vietnam)

Le-Thuy-AnhSituasi kesehatan di dunia; masyarakat semakin menua,

seiring globalisasi – demand meningkat,

kemajuan teknologi yang meningkat,

kolaborasi internasional, berbagai stakeholder yang berkolaborasi,

sistem informasi di pelayanan kesehatan (klinis, manajemen, keuangan; orang yang bepergian dan juga penyakit serta pengetahuan yang berpindah).

  • Bentuk baru pelayanan kesehatan, merupakan kombinasi dari: akses terhadap pelayanan yang bermutu, Personalied/precision medicine, profisiensi (mereka yang melayani, proses pelayanan dan platform teknologi)
  • Bagaimana dengan kondisi pasien di masa depan? Mereka membutuhkan hollistic model (prevention and care) dengan penekanan kuat pada diagnosis, monitoring, dan pelayanan preventif.
  • Konsep Pusat Unggulan
  • Teknologi IT yang dikembangkan untuk: Personalised data, web based platform, high security. Connected medical devices to support doctors, nurses and patient; Quantified personal health data; Telemedicine untuk memperbesar sumber daya dan keahlian (ahli dari berbagai dunia, dari pemerintah, dari RS lain dan sebagainya).
  • Keterampilan apa yang diperlukan RS? Menerapkan evidence based medicine, Menggunakan Teknologi Informatika di pelayanan kesehatan, Kemampuan penguatan biomedikal, Komunikasi ineterpersonal, serta Ketrampilan untuk long life learning
  • Apa yang dikerjakan RS Vinmec sebagai Private Hospital? Beberapa diantaranya, meningkatkan akses (clinical services) ke seluruh negari; secara berkesinambungan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan (teknologi) dan orang); investasi di IT, menguatkan Platform Bio-Medical; memperkuat patient experience; Database management
  • Bagaimana persiapan sebagai RS swasta?. Upaya yang dapat dilakukan antara lain: meningkatkan motivasi termasuk kolaborasi; masuk ke sistem kesehatan nasional untuk meningkatkan kselamatan dan mutu pelayanan. menjadi agen perubahan untuk pengembangan RS nasional dan internasional. 

David Leach, Senior Vice President, Enterprise (USA)

David-LeachRS saat ini harus berfungsi sebagai lembaga yang kompleks,

24 jam sehari , 7 hari seminggu.

RS berada di: tengah tengah krisis kemampuan bayar;

pola makan dan lifestyle tidak sehat, yang mengarah ke kondisi kesehatan buruk yang kronis dan penyakit;

populasi yang menua;

pasien yang semakin menuntut dan berharap; dan exploding cost.

  • Namun ada teknologi bagus yang dapat melawan kecenderungan di atas yang sebagian berbasis pada kemajuan tekonologi Telekomunikasi dan Informasi yaitu: teknologi di Internet; Teknologi yang memungkinkan mobility misal adanya smartphones; dan berbagai sistem pembelajaran.
  • RS perlu mempersiapkan diri bahwa kebutuhan data untuk pasien sangat besar. Jika ada 6 Terrabyte data untuk setiap orang, dapat dibayangkan betapa besarnya data yang ada. Ada sebuah ledakan dari data kesehatan. Dalam waktu 10 tahun diprediksi jumlah data akan naik 50 kali lipat.
  • Bagaimana RS di masa depan? RS akan lebih smart, bersifat digital, pasien tersambung ke RS dan sistem kesehatan yang lebih luas, ada optimalisasi, kemudian memperhatikan pasien-pasien secara lebih personalised, hal ini dilakukan untuk pengelolaan yang baik.
  • Masa depan perawatan pasien: masyaraat semakin smart dan tinggal dengan baik di rumah dan masyarakat; pelayanan yang tepat waktunya dan kompleks. Dengan demikian masa depan pelayanan RS adalah Precision Medicine.
  • Closing remark: Bagaimana RS-RS dapat menyiapkan diri?

Dr. Dilshaad Ali Bin Abas, Project Development Executive, FV Hospital (Vietnam)

Masa Depan Pelayanan Kesehatan

Dilshaad-Ali-Bin-AbasBagaimana situasi yang ada di dunia.

Dulu Amerika sekarang bergerak ke Asia

sebagai pusat pengembangan.

IT memang menjadi kunci.

  • Perjalanan pasien mulai ketika masuk ke RS dan mulai terlibat sistem IT di pelayanan kesehatan. Selamat datang dalam era Big Data.
  • Pelayanan kesehatan di masa ini dan mendatang menggunakan berbagai teknologi modern yang menggunakan prinsip-prinsip manajemen seperti Cloud yang memberikan kemudahan untuk penyimpanan data.
  • Remote Health Care bukanlah sesuatu yang virtual. Pasien di rumah atau daerah terpencil akan sangat terbantu dengan Remote Health Care. Hal ini tidak dapat dihindari. Pertanyaannya adalah apakah safe? Hal yang penting bukan masalah teknologi sebagai bentuk kemajuan, yang penting adalah keselamatan pasien dalam pelayanan model ini.
  • Rumah sakit yang secara digital terhubung dengan masyarakat atau lembaga lain merupakan masa depan yang harus kita perhatikan. Ada berbagai peralatan di RS yang akan terhubung dengan berbagai devices yang dipegang oleh masyarakat. Hubungan ini, apabila dikelola dengan baik, akan meningkatkan mutu pelayanan karena akan memperbaiki aliran data dan meningkatkan personalized healthcare for every individual.
  • Kesimpulan masa depan pelayanan kesehatan tidak lepas dari perkembangan Digital. RS harus menyiapkan Platforms + Ecosystem + Strategy agar tidak terjadi kekacauan. Hal ini bukan masalah strategi IT, tetapi strategi RS dengan dukungan IT yang baik. 
Apa yang dibahas oleh ketiga panelis tersebut digaris bawahi dalam sesi yang berjudul:

Digital Transformation in Health

Mr.-Gabe-RijpmaMr. Gabe Rijpma, Sr. Director Health & Social Services Asia, Microsoft (Singapore),

menyatakan bahwa: Kemajuan teknologi saat ini telah berada di tangan kita,

dan terjadi suatu proses perpindahan ke digital.

Tahun 2025 akan ada 60% computing di Cloud.

Dalam konteks ini diperkirakan banyak pengguna pelayanan kesehatan yang tersambungkan secara digital dengan lembaga pelayanan.

Ada harapan industri kesehatan untuk mentransformikan sistem yang mengelola “orang sakit” menjadi lebih luas cakupannya,

termasuk untuk pencegahan dan promosi kesehatan sebelum sakit.Hal ini dapat dikelola oleh RS dengan bantuan teknologi digital.

Catatan:

sesi-diskusiMenkes Vietnam masih mengikuti pertemuan ini dan ikut aktif dalam diskusi dengan membahas perlunya teknologi baru ini ke rumahsakit. Dalam diskusi, sekali lagi dia berharap untuk mendapatkan bantuan pengembangan kemampuan manajerial dari kelompok ini.

Laporan 8

Oleh: Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M. Sc, PhD

 Laporan 8:

Pengantar:

RS adalah enterprise yang isinya adalah SDM, tugas melayani orang sakit dan sekarang berkembang juga ke arah penanganan wellness. Saat ini ada kekurangan tenaga kesehatan di seluruh dunia.  Hal ini menjadi isu penting dalam agenda kesehatan. Bagaimana agar rumah sakit dapat menjaring tenaga yang berbakat?. Kemudian untuk mengembangkan reputasi termasuk reputasi RS. Ini hanya dapat dilakukan jika RS dapat menarik dan mempertahankan mereka (SDM/staf) yang berbakat.  Oleh karena itu, diselenggarakan Forum Diskusi dengan judul:

How Hospitals can Attract, Retrain and Retain the Right Talents.

Chair and Moderator: Dr. Eric de Roodenbeke, CEO, International Hospital Federation (Switzerland)

Panelis:

1. Prof. Anupam Sibal, Group Medical Director, Apollo Hospitals Group (India)

2. Ms. Lilian Chew, Chief Human Resource Officer, Eastern Health Alliance and Changi General Hospital (Singapore)

3. Ms. Hsiu Chin Chen (PhD, RN), Director of Nursing, Chi Mei Medical Center (Taiwan)

Prof. Anupam Sibal, Group Medical Director, Apollo Hospitals Group (India)

Anupam-SibalBagaimana RS mencari tenaga berbakat

untuk bekerja di dalamnya?. Bagaimana cara rekruitmennya?

Ini menjadi tantangan

berbagai lembaga.

Menurut Prof Sibal, perlu berbagai hal, antara lain:

  • Ada inovasi-inovasi di berbagai lembaga non rumah sakit. Deloitte sebuah lembaga konsultan terkemuka membangun website khusus untuk menarik pekerja. Intinya rekruitmen jangan dibuat membosankan, harus ada kegairahan dalam rekruitmen.
  • McLeod Health mengembangkan sistem dimana hanya orang-orang yang mempunyai  “compassion” dapat masuk ke RS-nya. Ini penting agar SDM yang masuk bisa menjalankan konsep safety and quality mereka. Dalam kasus RS Apollo, ada budaya organisasi Apollo Family yang dipergunakan untuk dasar rekrutmennya, misal Great Place to Work.
  • Kemudian Training and Deveopmen seperti KFC, mereka menggunakan e-learning platform. Melalui penggunaan e-learning, dapat mengubah suatu lembaga menjadi lebih baik, buktinya di Inggris KFC menjadi lembaga usaha yang terbaik. BJC Health Care di Amerika Serikat mengembangkan BJS Center for Lifelong Learning (CLL). Di dalamnya ada pelatihan untuk ketrampilan bekerja misal memiiki tanggung-jawab, komunikasi efektif, konfilk resolusi, dan perubahan yang positif. Hasil dari pengembangan ini positif; more patient focused, team oriented dan lain-lain. Hal ini juga berdampak pada retensi staf.
  • Apollo Management Development Program mencakup soft skills training, computer, leadership learning dan sebagainya. Apollo bekerja sama dengan AIMS (perguruan tinggi).
  • Kemudian bagaimana bakat-bakat baik untuk tetap bersama RS Anda? Contoh dari Google:  mengembangkan model sesuai dengan ide masing-masing, sampai membiayai beasiswa untuk cuti sekolah. Atau dengan kata lain, ada begitu banyak dana untuk pengembangan SDM.
  • CONE Health, lembaga pelayanan kesehatan mengembangkan sIstem untuk mengelola tenaga-tenaga yang hasilnya promosi internal naik dari 54% menjadi 70%. Faktanya hanya 1 orang yang pindah pekerjaan, dapat ditarik kesimpulan bahwa staf betah berada di RS.

Ms. Lilian Chew, Chief Human Resource Officer, Eastern Health Alliance and Changi General Hospital (Singapore)

Meritokrasi dalam merekrut dan mengembangkan tenaga-tenaga berbakat  

chewApa yang disebut Meritokrasi dalam rekrutmen

dan bagaimana progress

kemajuan SDM

di lembaga berdasarkan merit?

Ms Chew menyatakan berbagai hal:

  • Meritokrasi (memberikan penghargaan untuk mereka yang berprestasi) menyangkut Ketrampilan, Kualifikasi, Pengalaman, Etika Kerja sampai ke Etos Kerja di pemerintahan yang harus baik.
  • Prinsip Rekruitmen di Singapore berasaskan multi nasional, multi generasi, multi ras, dan multi profesiomal. Di salah satu RS-nya, ada 25 warga negara asing yang bekerja termasuk Indonesia. Oleh karena itu SDM-nya sangat beragam.
  • Ada 3 prinsip dasar dalam rekruitmen dan mengembangkan SDM yaitu: Agility, Produktivitas, dan Longevity.
  • Dalam Agility diharapkan ada SDM yang stabil, kompeten (termasuk kompeten dalam komunikasi), juga flkesibel. Ada program Ready, untuk menyiapkan tenaga muda berbakat untuk berkembang. Ini merupakan program regenerasi, untuk perawat ada tingkatan-tingkatan. Sementara untuk dokter ada remunerasi sesuai dengan beban medik dan beban manajerial.
  • Untuk produktivitas, dilakukan berbagai pengelolaan secara prosedur, peralatan, dan bangunan agar terjadi pengurangan heavy duty work.
  • Untuk prinsip longevity dikembangkan berbagai hal sehingga membikin sumber daya yang baik terus bekerja bahkan sampai pasca pensiun. Bagi mereka yang fit dan baik ditawari program re-employment setelah usia 62 tahun. Masa kerja bisa diperpanjang dengan 5 tahun kontrak. Terjadilah Ageless work. Juga dikembangkan berbagai program agar terjadi harmoni dalam kehidupan bekerja, sosial, dan keluarga. Diharapkan terjadi wellness di kalangan pekerja. 

Ms. Hsiu Chin Chen (PhD, RN), Director of Nursing, Chi Mei Medical Center (Taiwan)

Total Talent Management for Nurses.

Hsiu-Chin-ChenSituasi di Taiwan dulu, sulit untuk mencari

perawat.  Turn over yang tinggi

dan minat menjadi

perawat rendah.

Dengan program Total Talent Management for Nurses, kondisi saat ini berubah. Setelah 15 tahun,  Turn Over Rates turun dan Vacancy Rates turun. Apa yang dilakukan?

  • Mengembangkan lingkungan kerja yang positf dan ada Nursing Information System.
  • Membina para pemimpin perawat, yang berada di jalur klinis (Clinical Leader) dan di jalur administrasi dengan sebaik-baiknya. Juga pengembangan perawat yang berada di jalur Pendidikan dan Latihan (dosen dan instrukur). Ketiganya dikelola untuk mengembangan Budaya Kerja keperawatan yang baik.
  • Melakukan kerjasama yang baik antar Profesi, terutama antara Dokter dengan Perawat. Hubungan dengan dokter harus dibina terus.
  • Memberi kesempatan kepada para perawat untuk mengikuti Konferensi-konferensi Internasional dengan didanai oleh lembaga.
  • Melakukan pelatihan-pelatihan perawat dan manajer melalui pelatihan terstruktur; online education; pengembangan Pusat-pusat Ketrampilamn, dan penyelenggaraan konferensi-konferensi ilmiah.

Hasil yang bagus ini akan diteruskan dan dikembangkan di Taiwan.

Penutup

Oleh: Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M. Sc, PhD

Pada Gala Dinner Penutupan, diselenggarakan pemberian Award untuk berbagai Kategori.

laksono-trisnantoroDalam Gala Dinner  yang disponsori oleh Phillips, ini saya

sebagai Ketua Juri untuk kelompok CSR diberi kehormatan

untuk pertama kali menyerahkan Award ke pemenang (Lihat foto).

Penyelenggaraan Gala Dinner berlangsung meriah dan diselingi dengan penilaian Kostum Nasional terbaik yang dipakai oleh delegasi setiap negara. Dalam hal ini Indonesia, absen.

Ada beberapa catatan dalam Award dan sekaligus penutup laporan ini.

  1. Pengamatan terhadap tren

Berbagai tren yang terjadi saat ini perlu diperhatikan dengan seksama. Salah satu yang mencolok di pertemuan HMA 2016 adalah masalah IT yang semakin menantang. Di samping itu, consumer juga berubah dimana semakin ingin terlibat dalam pelayanan dan mereka sadar perlunya pencegahan penyakit. Seperti dikatakan CEO Phillips dalam pertemuan ini:  tren-tren ini mendorong perubahan di Phillips dalam merancang sistem dan peralatan medik. Dua kesempatan besar yang tidak bisa dilewatkan adalah: pertama; industrialisasi pelayanan kesehatan. Dengan industrialisasi ini diharapkan pelayanan dapat lebih baik namun lebih murah. Kedua, ada gejala Personalisation. Masalah kesehatan semakin menjadi rumit karena setiap person bisa berbeda-beda penyebab dan pengatasannya.  Oleh karena itu, pelayanan kesehatan harus siap menghadapi gejala tren ini.

  1. Rendahnya minat RS-RS Indonesia menghadiri HMA 2016.

Delegasi Indonesia relatif tidak besar, dan seluruhnya dari RS-RS Swasta. RS-RS daerah dan pemerintah tidak ada yang datang. Dalam Award dari sekitar 14 Award, tidak ada satupun pemenang dari Indonesia. Juga selama hampir 15 tahun penyelenggaraan HMA, belum pernah satu kalipun dilakukan di Indonesia.

Saya sebagai orang Indonesia di HMA 2016 merasa bahwa ada sesuatu yang aneh dalam hal ini. Indonesia sebagai negara besar di Asia seperti terisolasi.  Memang pertemuan-pertemuan seperti ini dikritik hanya mencari uang, dan dikelola oleh kelompok-kelompok tertentu. Namun fakta yang ada adalah pertemuan HMA sudah rutin berjalan dan menjadi ajang pertukaran ilmu dan aplikasi manajemen yang serius. Berbagai inovasi baru dan teknologi baru dikembangkan. Kegiatan untuk networking dan melakukan bisnis bersama dikerjakan.

Kemudian yang penting adalah pertemuan seperti ini akan memberikan wawasan luas untuk para manajer RS yang masih muda. Pengembangan manajer muda yang berwawasan internasional dapat didorong melalui keaktifan dalam pertemuan-pertemuan HMA.

Mengenai isi, dibanding dengan isi di International Hospital Federation (IHF) atau pertemuan-pertemuan manajemen RS di Eropa, isinya lebih relevan dengan RS di Indonesia.

Harapan:

Semoga PERSI dan asosiasi-asosiasi serta Kemenkes dapat mengambil sisi positif dari HMA, dan Indonesia bisa menjadi tuan rumah di tahun 2018.  Jangan sampai Indonesia terisolasi dari kemajuan manajemen rumah sakit di Asia.

  1. Dominasi oleh beberapa RS di India (Apollo Group), Singapura dan Filipina.

Pemberian Award didominasi oleh beberapa RS tertentu seperti Apollo Groups di India dan RS Tan Teck Song Singapura. Dominasi ini memang menunjukkan bahwa RS-RS yang inovatif tidaklah banyak. Mereka yang inovatif, semakin lama semakin membaik dan menyiapkan diri untuk menjadi juara yang mendapat Award. RS-RS yang lain menjadi semakin sulit untuk mendapat Award. Hal ini menjadi dilema juga karena bagi HMA akan membosankan kalau yang menang hanya RS-RS itu-itu saja.

Harapan:

RS di Indonesia perlu berlatih dan menyiapkan diri untuk Award ini.  Saya sebagai juri melihat potensi RS-RS di Indonesia ada, tapi tidak dituliskan dengan baik atau tidak ikut kompetisi.

  1. Wajah-wajah muda para manajer RS di Asia.

Regenerasi di berbagai RS Asia berjalan. Ketika melihat foto-foto HMA pada tahun-tahun 2005 (sekitar 10 tahun yang lalu),  ada wajah-wajah Direktur Indonesia seperti dari RS MMC yang menjadi pembicara. Namun jarang sekali direksi RS Indonesia yang hadir pada pertemuan HMA 2016 dan menjadi pembicara. Saya catat hanya ada 3,  sementara itu dari  negara lain yang hadir dan sebagai presenter, banyak direktur yang muda. Para pemenang Award juga banyak yang muda-muda.

penerima-awardFoto di sebelah adalah pemenang

Award dari RS di Singapura yang

masih muda-muda

.

Di dalam salah satu diskusi laporan pertemuan HMA 2016 ini , saya berpendapat bahwa ada kekurangan manajer RS di Indonesia. Mengapa? Berikut ini beberapa faktor penyebab:

  1. Sebagian manajer RS pemerintah pindah menjadi birokrat atau berada di regulator.
  2. Regenerasi dan konsultan manajemen sangat kurang. Mantan Direktur RS pemerintah atau swasta lebih senang menjadi surveyor akreditasi, bukan menjadi pelatih para manajer muda atau konsultan manajemen. Ada kemungkinan pendapatan menjadi surveyor lebih banyak, lebih mudah, dan lebih pasti. Sementara itu menjadi pelatih dan konsultan manajemen, tidak ada jaminan pendapatan.
  3. Tempat-tempat pendidikan manajemen RS seperti MMR FK UGM terkena kuota menerima mahasiswa. Tidak boleh banyak menerina karena kekurangan dosen. Sementara untuk menjadi dosen tidak mudah. Dengan model ini bisa terjadi gap antara ilmu yang diajarkan di kampus dengan kenyataan di lapangan.
  4. Saat ini jarang ada pelatihan manajemen RS untuk para eksekutif yang bersifat non degree dan berbagai faktor lainnya.

Saya melihat sendiri di Ho Chi Minh: RS-RS Filipina, Singapura, India, bahkan Vietnam telah meregenerasi para manajer RS. Mereka yang presentasi dan menjadi pemenang award masih muda-muda. Mereka didukung oleh seniornya. Selain itu, terdapat juga banyak pelatihan-pelatihan manajemen RS dan didukung oleh pemerintah.

Pendapat saya pribadi: saat ini Indonesia sudah mulai masuk ke krisis manajer RS. Kurang jumlah, sistem regenerasi buruk, dan kepakaran kurang, sementara itu masih belum banyak manajer asing. Di China dan Vietnam, serta Singapura mereka mengimpor tenaga manajer RS dari luar negeri.

Harapan:

Regenerasi manajer RS di Indonesia harus digiatkan. Para tokoh manajemen kesehatan, sesepuh, pimpinan asosiasi RS dan CEO RS harus berinisiatif mengembangkan manajer-manajer muda. Jika tidak dilakukan, akan ada dosa dan kesalahan kita untuk generasi manajer Indonesia di masa mendatang. Posisi manajer RS di Indonesia saat ini rentan dimasuki oleh manajer asing dengan mudah.

  1. Kurangnya minat RS Pemerintah untuk ikut HMA.

Memang terlihat pertemuan HMA ini cenderung untuk swasta. Banyak sesi yang hanya dapat dilakukan oleh RS swasta.  Sesi saya mengenai RS Pemerintah tidak banyak peminat. Sementara itu RS-RS pemerintah di Asia banyak. Padahal di berbagai negara lebih banyak RS pemerintah dibanding RS swasta, seperti Malaysia, Vietnam, Sri Lanka.

Harapan:

Tahun-tahun mendatang HMA 2016 akan lebih banyak membahas tantangan RS pemerintah. Saya akan mengusulkan ke panitia untuk menambah publikasi dan sesi untuk RS-RS pemerintah.

  1. Persiapan Manila.

Pertemuan HMA 2017 di Manila masih satu tahun lagi. Bagaimana persiapan RS-RS di Indonesia untuk memberikan presentasi free-paper atau invited? Bagaimana persiapan RS-RS di Indonesia untuk ikut dan berpartisipasi dalam Award? Saya menganggap bahwa Award PERSI adalah Pekan Olahraga Nasional (PON) yang sudah cukup berat, sementara itu Award HMA adalah Asian Games. Jadi para juara PON Indonesia harus berani untuk menyiapkan diri untuk Asian Games-nya RS yaitu di HMA 2017 di Manila. Mari kita siapkan sejak sekarang.

Penutup:

Demikian laporan saya yang didukung tim MMR/PKMK FK UGM dari Ho Chi Minh.  Topik-topik yang saya laporkan dapat dibahas lebih lanjut melalui diskusi di website, bukan di Whats App Group (WAG) yang sulit dilakukan secara sistematis dan membuat lelah.  Saat ini sudah ada berbagai tanggapan dalam diskusi.

Semoga isi laporan ini dapat dipergunakan untuk memajukan ssstem manajemen RS anda, meningkatkan kinerja RS dan memperbaiki sistem kesehatan di Indonesia.

Oleh: Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M. Sc, PhD

Dosen Bagian IKM FK UGM dan Peneliti pada PKMK FK UGM