Webinar
Pembelajaran Dan Praktik Baik Program “EMAS”
dalam Upaya Penyelamatan Ibu dan Bayi Baru Lahir

Selasa, 14 Maret 2017

i.underline

Pembelajaran baik dari program EMAS

  1. Adanya komitmen dari kepala daerah sampai ke level Puskesmas. Pihak swasta, bidan swasta, organsiasi profesi bahkan hingga ke pemerintah dan masyarakat dirangkul dan digandeng.
  2. Kegiatan yang ada dalam program Emas bukan hanya dilakukan pendampingan oleh para mentor Emas melainkan juga pihak yang sudah terlebih dahulu dimentori bisa mendampingi wilayah lainnya. Ini berarti saling berbagi ilmu.
  3. Terdapat maklumat untuk mendukung tata kelola klinis maternal dan neonatal, melalui tata klinis kolaborasi dapat dilakukan, baik internal RS maupun puskesmas. Misalnya pada kasus rujukan gawat darurat maternal neonatal. Ada 29 institusi yang menandatangani MoU tata kelola klinis. Selain manfaat dari internal RS maka hal tersebut dapat membantu program rujukan yang masuk ke RS tempat bekerja agar yang dirujuk merupakan kasus dalam keadaan baik karena sudah diberikan tata kelolanya sebelum dirujuk.
  4. Untuk meningkatkan antusiasme atau keinginan ibu hamil bersalin di faskes dilakukan kampanye hingga mencetak spanduk dengan tulisan ayo bersalin di sarana kesehatan.Bahkan sosialisasi juga dilakukan melalui door to door, arisan hingga majelis ta’lim.
  5. Program EMAS dapat mengelola program menjadi satu kesatuan, dengan tidak melihat, pusat, kabupaten dan daerah, tentunya harus digagas dengan berkualitas, karena masingmasing individu terbiasa bekerja sendiri-sendiri. Dengan program EMAS, tim yang terlibat bisa mendapatkan pengetahuan, seperti bola salju yang awalnya kecil sehingga menjadi bentuk standar yang terbakukan tentunya dengan open mind & komitmen. Seluruh pihak termasuk poskesdes mengerti tugas dan perannya masing-masing, jika ingin merujuk yakni harus dalam posisi terkoordinasi dengan puskesmas. Sebelumnya terkadang tidak ada koordinasi dalam merujuk, dengan adanya program EMAS, keterampilan-keterampilan tim di lapangan meningkat sehingga tim mengetahui kriteria apa yang dirujuk sesuai dengan perjanjian yang sudah disepakati bersama.
  6. Adanya Sistem Informasi Jejaring Rujukan Expanding Maternal and Newborn Survival(si jari EMAS) yang sangat membantu dalam menurunkan AKI & AKB
  7. Adanya Forum Masyarakat Madani (FMM): bagaimana membuat team work dan membuat semua orang berguna sesuai dengan kemampuan dan peran masing-masing.
  8. Mentor Emas mendampingi dalam membuat laporan dengan dasar data dan fakta. Hal ini dirasakan ketika ingin melakukan evaluasi selalu bermula dari anggapan semata sehingga dengan membuat data berdasarkan fakta bisa membuat advokasi berhasil.
  9. Selama ini seolah dinkes bekerja sendiri namun dengan adanya program EMAS semua bekerjasama, baik organsasi profesi, pemerintah dan msayarakat dan lain-lain. hikmahnya banyak yang menjadi mentor-mentor yang handal untuk wilayah yang belum menjadi wilayah kerja EMAS. Hal ini memicu bupati dan wakilnya untuk meningkatkan layanan kesehatan ibu dan anak.

Tantangan terbesar dalam kegiatan EMAS:

  1. Program EMAS langsung bersentuhan dengan perubahan kebijakan, terdapat layanan kepuasan masyarakat, sehingga saat di lapangan akan berhadapan dengan sekelompok orang status quo atau orang yang sulit berubah, biasanya kelompok tersebut menggunakan kebijakan politik untuk menolak perubahan.
  2. Pada saat pemilihan kepala daerah (PILKADA) dan pemilihan legislatif (PILEG), setelah didapatkan pemenang maka terdapat perombakan secara besar-besaran sehingga cenderung menempatkan orang yang tidak berkompeten pada tempat yang tidak semestinya.
  3. Mutasi SDM

Notulis: Andriani Yulianti, MPH

Sambutan & Seruan Aksi: Penyelamatan ibu dan bayi baru lahir oleh Menteri Kesehatan RI
Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, SpM(K)

Segmen 1:
Membangun jaringan fasilitas PelKes emergensi ibu & bayi baru lahir yg berkualitas

Segmen II:
Lingkungan yang Mendukung bagi Terselenggaranya Pelayanan Rujukan Emergensi Ibu dan Bayi Baru Lahir yang Berkualitas