Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Riset Kebencanaan ke – IV

Senin-Rabu, 8-10 Mei 2017
Balairung Kampus UI Depok

i.underlinepit-bencana

Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Riset Kebencanaan dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) merupakan acara tahunan yang bertujuan untuk menggali peran ilmu pengetahuan dan teknologi dalam penanggulangan bencana di Indonesia. Pada tahun ini PIT Riset Kebencanaan ke-4 akan diselenggarakan di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat pada hari Senin-Rabu, 8-10 Mei 2017. Dalam kegiatan ini akan dipaparkan penelitian-penelitian yang dibagi dalam beberapa tema. Tidak hanya itu, kegiatan juga akan dilanjutkan dengan Musyawarah Nasional (Munas) Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI).

Hari 1

PERTEMUAN ILMIAH TAHUNAN (PIT)

IABI TAHUN 2017 UI JAKARTA

8 – 9 MEI 2017

Reportase oleh : dr. Sulanto Saleh Danu, Sp. FK dan Sutono, SKp. M.Sc., M.Kep


iaibi-1Pembukaan acara PIT IABI dilaksanakan di Gedung Balairung UI Depok yang diawali dengan Sambutan Rektor UI, Prof.Dr. Ir. Muhammad Anis, M. Met. Sebagai ketua IABI saat ini Prof. Dr. Sudibyakto juga memberikan sambutan dan melaporkan secara singkat perjalanan IABI sampai saat ini, dan dilanjutkan sambutan sekaligus pembukaan oleh Wakil Presiden RI, Dr. H. Muhammad Jusuf Kalla.

iaibi-2

Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla, dalam Pembukaan Pekan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-4 dan Munas Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) di di Balairung Universitas Indonesia (UI) Depok, Jawa Barat, Senin (8/5), kembali mengingatkan agar masyarakat Indonesia meningkatkan kultur sadar bencana pada Senin (8/5/2017). “Meningkatnya bencana di Indonesia perlu diantisipasi dengan mengembangkan kultur sadar bencana untuk mengurangi risiko bencana. Bencana bersifat multidimensi sehingga semua ilmu harus memberikan solusi terhadap bencana. Selalu dinamis dan harus dapat dilakukan preventif,” ujar Jusuf Kalla.

“Saya sharing pengalaman, sebab selama 17 tahun saya ikut serta dalam penanganan bencana. Sejak menjabat Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat yang merangkap Ketua Bakornas, kemudian menjadi Ketua PMI. Apalagi saya terjun langsung menangani tsunami Aceh yang demikian dahsyat, kemudian gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Lalu gempa Sumatera Barat dan bencana lainnya. Kultur kebiasaan masyarakat di Simeulue sudah menjadi kultur masyarakat Indonesia saat ini. Begitu merasakan gempa besar langsung berlari ke bukit. Saat tsunami Aceh, kultur masyarakat Simeulue ini telah menyelamatkan warga sekitar. Hanya ada korban 10 jiwa, sedangkan di Aceh yang tidak memiliki kultur ini korbannya lebih dari 100 ribu jiwa,” tambah Jusuf Kalla.

Wapres juga menyampaikan, “Ternyata intensitas gempa tidak simetris dengan korban gempa. Kita lihat gempa 6,3 SR di Yogyakarta dan Jawa Tengah tahun 2006 menelan korban 5.700 jiwa meninggal, sedangkan gempa 7,6 SR di Sumatera Barat menyebabkan 1.700 orang meninggal dunia. Dampak gempa tergantung pada lokasi, waktu,  dan kondisinya. Di Yogya penduduk lebih padat, rumah beratap genteng, kejadian pada subuh. Sedangkan gempa di Sumatera Barat terjadi pada sore hari dengan penduduk yang tidak sebanyak di Jawa. Jadi 4 hal yang harus dijawab para peneliti, akademisi, praktisi dan lainnya adalah apa, dimana, kenapa dan bagaimana? Iptek harus mampu memprediksi secara tepat. Untuk dapat mengatasi bencana maka ada 3 tahapan yaitu pertama tanggap darurat. Prioritas adalah penyelamatan korban. Kedua adalah rehabilitasi dan ketiga rekonstruksi. Saat pasca tsunami, pemerintah menetapkan tanggap darurat selama 3 bulan, kemudian rehabilitasi 3 bulan dan selanjutnya rekonstruksi selama 3 tahun. Hal yang sama juga kita lakukan saat penanganan gempa Yogyakarta. Cepatnya penanganan bencana ini menjadi contoh dunia. Bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberikan penghargaan Global Champion for Disaster Risk Reduction kepada Pemerintah Indonesia.”

Wapres juga meminta agar bencana makin meningkatkan kesadaran akademisi dan ilmuwan untuk mencari inovasi dan kreativitas sehingga korban bencana dapat dikurangi.

Kepala BNPB Willem Rampangilei dalam sambutannya menyatakan, “Jutaan penduduk Indonesia tinggal di daerah bencana. 150 juta penduduk di daerah rawan gempa, 64 jiwa di daerah rawan banjir, dan 41 juta di daerah rawan longsor dan sebagainya. Sementara itu kejadian bencana terus meningkat setiap tahun. Kapasitas penanggulangan bencana Pemda masih belum merata. Penyebab bencana disebabkan laju degradasi lingkungan lebih cepat dari pemulihan. Untuk mengantisipasi bencana maka pencegahan dan penanggulangan bencana menjadi prioritas pembangunan nasional. Pencegahan menjadi lebih prioritas. Diharapkam IABI dapat meningkatkan jejaring iptek untuk penanggulangan bencana. Investasi pengurangan risiko bencana dapat menjadi penggerak ekonomi pembangunan.”

Rektor UI, Muhammad Anis mengungkapkan Indonesia adalah laboratorium bencana yang menjadi tantangan bagi para pendidik, peneliti, serta praktisi. UI sebagai tuan rumah menyambut baik kegiatan ini. Pendidikan bencana berkembang pesat karena multidimensi. UI telah menghasilkan beberapa inovasi makanan untuk darurat bencana. UI menyelenggarakan simulasi dan pendidikan bencana. Saat terjadi bencana UI selalu mengirimkan relawan dan UI Peduli membantu masyarakat dan Pemda dalam penanganan bencana. Diharapkan PIT dapat menghasilkan inovasi dan terobosan.

Selama tiga hari (8 – 10/5), para ahli nasional dan internasional di bidang kebencanaan akan saling berbagi pengalaman, sharing knowledge serta brainstorming secara komprehensif terkait kebencanaan dan mensinergikan sains, teknologi, dan inovasi terkait kebencanaan. Dengan tema “Peran Masyarakat Bagi Pencapaian SDGs : Kontribusi Pemangku Kepentingan Untuk Penurunan Risiko Bencana”, diharapkan pertemuan ilmiah ini mampu menghasilkan keluaran berupa tersusunnya Blue Print Riset Kebencanaan sebagai acuan dalam perencanaan dan penganggaran sesuai dengan kebutuhan penanggulangan bencana di Indonesia.

Hari 2

Sesi Seminar (Ruang Perpustakaan)

Reportase hari ke 2 : Selasa, 9 Mei 2017

Reportase : dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK & Sutono, SKp. M.Sc., M.Kep


mbah-rono

Tema Model Partisipasi Aktif Pemangku Kepentingan terhadap pengurangan resiko bencana (PRB). Acara dipandu oleh Ir Isman Justanto, MSCE dan Dr. Nadia Yovani, S.Sos., M.Si. sebagai moderator dan sebagai Invite Speaker Dr. Surono. Surono memaparkan tentang Bencana Gunung Api Sinabung. Kejadian bencana gunung api yang sampai saat ini belum selesai. Selanjutnya ada beberapa presentasi paparan hasil penelitian antara lain :

  1. Nadira Irdiana : Kajian Pemenuhan Hak Anak dan Perempuan di Situasi Darurat Bencana Gempa Bumi Pidie
  2. Berwi Fazri Pramudi : Model Kesiapsiagaan Pemangku Kepentingan di Nias Selatandalam Menghadapi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami
  3. Aksi Youth Ambassador dalam Pengurangan risik Bencana di 7 Kelurahan di Jakarta Barat dan Jakata Timur
  4. Fajar Sidiq : Analisis Pola Koordinasi Pemerintah dalam Masa Siaga Darurat Erupsi Gunung Bromo Tahun 2015 -2016
  5. Nur Miladan : Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaaan Resiko banjir di Wilayah Hilir Daerah Aliran Sungai Kali Pepe Surakarta
  6. Niswa Nabila Siba : Pengaruh Komodifikasi Bencana Banjir Garut 2016 oleh TV One terhadap Ketangguhan Masyarakat
  7. Adityo Mega Anggoro : Simulasi Kejadian Kebakaran Hutan dan Lahan menggunakan Model WRF – Fire (Studi Kasus Kalimantan Tengah 17 Oktober 2015)
  8. Jaka Suryanta : Mengatasi Bencana Banjir dan Peluang Restorasi (Studi Kasus Wilayah Sukoharjo)
  9. Sylvia Fettry E.M. : Mengawal Akuntabilitas Dana Penanggulangan Bencana
  10. Yoan Adi Wibowo Sutomo : Peran Penting Komunitas Relawan Kabupaten Sleman dalam Penurunan tingkat Resiko Bencana
  11. Paulus P. Raharjo : Mempersiapkan Kota Bandung Menghadapi Bencana Alam
  12. Aruminingsih : Penerapan Resilience City di Indonesia dalam Kerangka Kota Berkelanjutan dan SDGs.
  13. Nasfryzal Carlo : Partisipasi Masyrakat dalam Memelihara Jalur Evakuasi Tsunami di Nagari Air Bangis Kabupaten Pasaman Barat

Sesi Seminar Internasional

Tema seminar : “Contribution of Science and Technology for Disaster Risk Reduction”
Tempat seminar : Ruang Apung UI Depok
Acara dibagi dalam 2 sesi.
Sesi pertama : Moderator Dr. Raditya Jati (BNPB)
Pembicara dan materi seminar :

  1. Dr. Wei – Sen Li ( Taiwan) : How to Integrate Science and Technology to Engage DRR Application to Support Decision Making
  2. Dr. Jane Rovins (Massey University) : Enhancing Disaster Preparedness for effective Response to Build Knowledge and Capacity

Pembahas : Ir. Sugeng Triutomo, DESS (IABI) dan Dr.rer., nat. Armi Susandi, M.T. (ITB)

Sesi Kedua : Moderator : Dr. Dicky Pelupessy (UI)

Pembicara dan materi seminar :

  1. Ass. Prof. Takako Izumi (Tohoku University) : Investing to Disaster Risk Reduction : Promote Cooperation between Academic, Scientific and Research entities and Networks with Privatte Sector
  2. Dr. Yasushito Jibiki (Tohoku University) : Social Behavior in Disaster Situation : A Case Study in The Kelud Eruption in 2014

Pembahas : Prof. Dr. Fatma Lestari (UI) dan Dr. Ing. Ir. Agus Maryono (UGM)

2. Musyawarah Nasional (MUNAS IABI, 2017)

MUNAS IABI dilaksanakan selama 2 hari pada malam hari yang diselenggarakan di Hotel Margo Depok. Diikuti oleh sebagian anggota IABI dan pada malam pertama peserta dinyatakan telah memenuhi kuorum sehingga munas bisa diselenggarakan. Acara MUNAS hari pertama : Pembukaan oleh Ketua IABI : Prof. Dr. Sudibyakto dilanjutkan dengan acara MUNAS yaitu :

  1. Amandemen AD/ART IABI
  2. Laporan Pertanggungjawaban Pengurus IABI periode 2014 – 2017
  3. Pemilihan Pengurus IABI periode 2017 – 2020

Pada hari pertama MUNAS menghasilkan dewan Formatur yang terdiri dari perwakilan yang diambil dari area wilayah di Indonesia.

semnas-iabi

Hari Kedua MUNAS menghasilkan pengurus IABI periode 2017 – 2020 yang terdiri :

  1. Ketua Umum ; Harkunti Pratiwu Rahayu (ITB)
  2. Wakil Ketua Umum ; Triarko Nurlambang (UI)
  3. Wakil Ketua I Bidang Kerjasama ; Suprayoga Hadi (Bappenas)
  4. Wakil Ketua II Bidang Riset ; Khairul Munadi (Unsyiah)
  5. Wakil Kerua III Bidang Pengabdian Masyarakat ; Agus Maryono (UGM)
  6. Wakil Ketua IV Bidang Penguatan Kelembagaan ; Hendro Wardono ( Unitomo)
  7. Sekjen ; Lilik Kurniawan ( BNPB)
  8. Wakil Sekjen : Dicky Pelupessy (UI)
  9. Bendahara ; Siti Agustini (Praktisi)

ketua-iabipengurus-iabi

          Penutup

peserta-iabi

Perhelatan PIT 4 dan Munas IABI telah selesai. Beberapa hal yang dihasilkan diantaranya adalah adanya dukungan dan harapan dari pemerintah yang tercermin dari pernyataan Wapres Jusuf Kalla dan Kepala BNPB kepada IABi. IABI diharapkan dapat membantu pemerintah dalam mengurangi risiko bencana utamanya dalam pemanfaatan IPTEKS dan jejaring perkuatan kapasitas penanggulangan bencana di daerah, Terbentuknya pengurus baru IABI yg harus terus berbenah memperbaiki mekanisme organisasi dan melakukan aksi secara nyata.

IABI adalah rumah bersama seluruh peneliti, perekayasa, praktisi dan akademisi. Istilah “ahli” sempat menjadi bahan diskusi yang mengemuka. Ahli tidak hanya diukur oleh banyaknya gelar seseorrang akan tetapi ahli merupakan predikat yang melekat karena seseorang memiliki sesuatu pengetahuan yg dapat dijadikan pembelajaran orang lain untuk melakukan upaya-upaya penanggulangan bencana di Indonesia. Jadi seharusnya  IABI harus menjalankan “knowledge sharing” dan gerakan-gerakan untuk penanggulangan bencana di Indonesia.

Penutupan PIT IABI 2017 UI Jakarta

Pada acara PIT 4, banyak hal penting dibahas, termasuk masukan para ahli asing dari Taiwan, Jepang dan New Zealand. Dari sisi ilmu sosial yang mengemuka terwakili oleh sosok Syamsul Maarif dan Gunawan Muhammad. Pelibatan semua pihak nampak pada lomba-lomba yang diikuti masyarakat umum seperti foto, poster dan poster ilmiah, juga pameran, festival fim dan eksursi pada penggal sungai Ciliwung.

drill-disaster

Sebagai closing statement dari sekretariat IABI, beliau mengatakan “Saatnya kita bekerja,  bekerja untuk Indonesia yang lebih baik. Berkontribusi dalam pembangunan sesuai dengan bidang keilmuannya. Salam kemanusiaan”.