Progam Intervensi Komunitas Dalam Kesehatan Ibu Dan Anak

Sejak 1990 hingga2015, angka kematian anak mengalami penurunan sebesar 53%. Dalam kurun waktu tersebut, angka kematian ibu juga mengalami penurunan meski tidak mencapai target dari MDGs. Pada 2015 sebanyak 303 ribu wanita meninggal karena komplikasi kehamilan dan persalinan. Setiap wanita layak mendapatkan perhatian, perhatian budaya, serta perawatan yang terfokus pada bagaimana dan dengan siapa mereka ingin menerima perawatan kesehatan ibu. Untuk memastikan terpenuhinya hal tersebut, sistem kesehatan harus memenuhi kebutuhan wanita dimanapun mereka berada, baik secara harfiah ataupun tidak. Pendekatan berbasis komunitas dapat menjadi strategi yang efektif untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan ibu yang sesuai dan dimanapun mereka berada. Sayangnya, masih banyak sistem kesehatan yang belum memiliki kapasitas ataupun infrasturktur dalam menyediakan pelayanan kesehatan ibu (dengan standar tinggi) pada level komunitas.

Dalam upaya menyediakan pelayanan kesehatan ibu berbasis komunitas, dibutuhkan tenaga kesehatan yang kuat dan terlatih, serta adanya sistem rujukan dan transportasi yang efisien, juga infrastruktur yang jelas. Namun berbagai progam terkait antepartum, intrapartum, dan pospartum pada level komunitas di area rural masih memiliki tenaga kesehatan yang kurang memadai.

Program berbasis komunitas ini sudah banyak digunakan pada beberapa negara seperti Burma, Etiopia, Kenya, Nigeria, Afghanistan, dan Nepal.

Sebuah tinjauan sistematis 2013 menyimpulkan bahwa CHWs (program beerbasis komunitas) dapat secara efektif menyampaikan pesan pendidikan, meningkatkan akseptabilitas praktik perawatan bayi baru lahir seperti kontak kulit ke kulit dan menyusui eksklusif dan memberikan intervensi termasuk pengobatan pencegahan intermiten untuk layanan malaria dan psikososial. Namun, penelitian tambahan mengenai berbagai jenis program CHW dalam beragam pengaturan diperlukan untuk mengidentifikasi model paling sukses untuk peningkatan skala.

Program Berbasis Komunitas:

Sebagai upaya dalam meningkatkan pelayanan kesehatan para sukarelawan dan komunitas dapat dilibatkan dalam pendidikan dan promosi kesehatan. Hal ini bertujuan untuk memberdayakan komunitas dengan pengetahuan dan keahlian yang memadai. Salah satu cara yang digunakan untuk memberdayakan komunitas dengan mengorganisir kelompok perempuan yang fokus terhadap beberapa isu kesehatan tertentu. Dalam suatu penelitian di India menyebutkan bahwa dengan adanya intervensi dari komunitas, angka kematian anak bisa menurun hingga 30%. Penurunan angka kematian anak didukung dengan meningkatnya inisiasi menyusui dini (IMD) dan penyuluhan terkait perilaku hidup sehat dari komunitas-komunitas.

Pada suatu review sistematik pada 2013, disebutkan bahwa peran komunitas wanita dalam KIA cukup berpengaruh dalam menurunkan angka kematian ibu. Peran yang dapat dilakukan oleh komunitas perempuan antara lain dalam melakukan identifikasi dan deteksi dini terkait adanya masalah dalam kehamilan hingga persalinan. Hal ini dapat menurunkan AKI sebesar 23% dan angka kematian anak sebesar 20%.

Tantangan dalam Program berbasis Komunitas:

Pada negara-negara dengan SDM terlatih yang rendah, akan lebih sulit dalam mencapai tujuan untuk menurunkan AKI. Namun tidak ada aturan atau standar tertentu dalam suatu komunitas untuk meningkatkan perannya dalam penurunan AKI. Hal yang diatur oleh WHO sendiri lebih cenderung pada SOP dalam intervensi terkait proses persalinan ibu, antara lain penggunaan oxytocin sebagai uterotonic untuk mencegah PPH. Dalam suatu review sistematik disebutkan bahwa dalam suatu komunitas, penggunaan misoprostol selama home visit lebih besar dibandingkan saat ANC.

Dalam upaya meningkatkan kualitas dari komunitas dibutuhkan pelatihan dan supervisi untuk memastikan komunitas memberikan pelayanan yang berkualitas utamanya terkait KIA. Metode pelatihan yang sering digunakan adalah sesi kelas interaktif, diskusi dengan grup-grup kecil, clinical vignettes, dan pelatihan lapangan/ praktik langsung. Dalam pelatihan ini harus diperhatikan dan diterapkan sesuai dengan keragaman yang ada di lingkungan tersebut seperti budaya dan kepercayaan. Melalui komunitas ini, pemerintah dapat lebih mudah dalam mensosialisasikan program-program baru terkait KIA. Selain itu juga adanya teknologi baru yang berhubungan dengan KIA akan dikenalkan ke masyarakat melalui keberadaan komunitas.

24_1

Efektivitas Program Berbasis Komunitas:

Berdasarkan WHO-CHOICE model, Adam and oth- ers (2005) perkiraan efektivitas dari adanya intervensi komunitas dinilai baik pada negara dengan angka mortalitas ibu dan anak yang cukup tinggi, seperti Afrika dan Asia Tenggara. Intervensi yang paling baik adalah perawatan bayi baru lahir, disusul dengan ANC, penolong persalinan terlatih, pelayanan kesehatan pada ibu dan bayi, serta penanganan pada kondisi kegawatdaruratan selama persalinan, paska persalinan, dan bayi. Intervensi ini dikatakan efektif apabila nilai Disability Adjusted Life Year (DALY) lebih kecil dari Gross Domestic Product (GDP) dan dinilai sangat efektif jika DALY <3 x GDP per kapita.

24_2

Kesimpulan:

Seiring dengan berkembangnya suatu negara, hasil dari peningkatan perkembangan ekonomi global dan sistem pelayanan kesehatan turut membaik. Sehingga jika diikuti dengan peningkatan jumlah penduduk tidak akan menjadi suatu masalah atau ketimpangan yang berarti. Kematian ibu dan anak tentunya menjadi suatu tantangan yang cukup berat terutama di daerah rural. Untuk mendapatkan kesehatan ibu, anak, bayi, dan juga masyarakat usia produktif lainnya dibutuhkan peran serta dari komunitas. Intergrasi/ kerjasama antara komunitas dan sistem pelayanan kesehatan primer memiliki beragam dampak dalam keberlanjutannya, efektivitasnya,  dan keberlangsungan komunitas pada bidang kesehatan. Semua hal tersebut akan membantu dalam terwujudnya SDGs.

SUMBER :