Strategi Baru WHO: The End Tuberculosis


who1

Mycobacterium tuberculosis pertama kali ditemukan pada tahun 1882. Vaksin BCG sendiri pertama kali digunakan untuk manusia pada tahun 1921 di Perancis, namun tidak mencegah tuberculosis untuk menjadi suatu endemik. Pada tahun 2003 meski sudah banyak ditemukan berbagai metode pengobatan namun kasus baru TB masih tinggi mencapai 9,5 juta jiwa dan 0,5 juta jiwa di dunia meninggal karena TB. Hingga saat ini pengendalian TB masih dianggap sebagai tantangan besar terlebih dengan adanya MDR-TB. Seiring dengan berakhirnya era MDGs dan dimulainya era SDGs, TB masih mendapat perhatian khusus di dunia. Demi terwujudnya dunia yang sehat dan bebas TB, WHO mencetuskan sebuah strategi baru yang menyertai SDGs, End TB Strategy.

Tuberculosis termasuk dalam 10 besar penyebab kematian di dunia pada tahun 2015. Dari 10,4 juta jiwa yang menderita TB terdapat 1,2 juta jiwa yang juga menderita HIV. Pada tahun yang sama terdapat 1,8 juta jiwa yang meninggal karena TB dan 0,4 juta diantaranya menderita HIV. Setelah era MGDs berakhir pada tahun 2015, TB masih menjadi sorotan dunia karena belum terselesaikan 100%. Pada era SDGs khususnya pada tujuan nomor 3 terkait kesehatan, diharapkan mampu memastikan kehidupan yang sehat dan mempromosikan kesejahteraan bagi semua usia. Lebih ditekankan lagi pada tujuan untuk mampu menghentikan epidemik AIDS, tuberculosis, malaria dan penyakit tropis lainnya. Insidensi TB sendiri ditargetkan akan berkurang sebesar 80% dan 90% untuk rasio kematian akibat TB. Target tersebut diharapkan bisa tercapai pada tahun 2030.

WHO dengan End TB Strategy menargetkan mampu menurunkan insidensi TB dan rasio kematian sebesar 90% dan 95% pada tahun 2035, 5 tahun lebih lama dari berakhirnya era SDGs. Strategi WHO ini dilakukan beriringan dengan SDGs khususnya dalam memberantas TB. Dengan adanya berbagai intervensi yang dilakukan diharapkan target penurunan insidensi maupun rasio kematian akibat TB hingga 100% dapat tercapai.

Target kesehatan lainnya yang cukup penting adalah mencapai cakupan kesehatan secara menyeluruh (universal health coverage) termasuk akses perlindungan risiko keuangan; akses pelayanan kesehatan yang aman, efektif, dan berkualitas; obat-obatan dengan harga terjangkau dan vaksin untuk semua masyarakat. Kesuksesan dalam deteksi dini dan terapi pada TB merupakan salah satu indikator dari tercapainya target tersebut.

Tujuan dari End TB Strategy adalah untuk mengenyahkan TB dari dunia (tidak ada kasus TB maupun kematian akibat TB). Sedangkan prinsip dari strategi yang dilakukan oleh WHO ini adalah:

  1. Mengikutsertakan peran pemerintah dalam mengevaluasi dan memantau jalannya strategi ini.
  2. Memanfaatkan koalisi dengan organisasi sosial masyarakat maupun komunitas yang ada.
  3. Menjamin perlindungan Hak Asasi Manusia dan mempromosikan adanya kesetaraan antar masyarakat.
  4. Melakukan adaptasi strategi dan target di tiap negara, dengan kolaborasi secara global

Berikut ini adalah pilar-pilar atau komponen yang ada dalam End TB Strategy oleh WHO:

  1. Pelayanan kesehatan yang berintegrasi, patient-centered, dan upaya pencegahan terhadap penyakit
    – Deteksi dini penyakit TB
    – Memberikan terapi kepada semua penderita TB secara menyeluruh dan mengantisipasi kejadian resistensi obat
    – Menejemen adanya komorbiditas (TB/HIV)
    – Upaya terapi pencegahan pada masyarakat berisiko tinggi dan pemberian vaksin TB (BCG)
  2. Menetapkan kebijakan dan sistem pendukung lainnya
    – Komitmen politik dengan sumberdaya yang memadai untuk perawatan dan pencegahan TB
    – Bekerjasama dengan organisasi sosial masyarakat, komunitas, pihak pemerintah maupun swasta
    – Membuat kebijakan mengenai cakupan kesehatan menyeluruh, hingga terapi yang diberikan
    – Perlindungan sosial, penurunan angka kemiskinan terkait kejadian TB
  3. Penelitian intensif dan inovatif
    – Menemukan dan mengembangkan peralatan yang baru, intervesi yang tersedia, dan juga strategi yang bisa digunakan
    – Melakukan penelitian untuk mengoptimalkan implementasi atau dampak terhadap intervensi yang akan diberikan, sekaligus mempromosikan inovasi untuk terapi TB.

Agar tujuan End TB Strategy dari WHO tercapai pada tahun 2035, maka diperlukan peran serta dari berbagai pihak, antara lain:

  • Para tenaga medis diharapkan mampu memperluas cakupan intervensi dalam melakukan penanganan maupun pencegahan TB. Lebih difokuskan pada yang mampu memberikan dampak yang nyata/ besar. Menggunakan metode patient-centered dengan pelayanan yang terintegrasi.
  • Membentuk sistem dan kebijakan terkait kesehatan yang memberikan manfaat penuh, melalui kolaborasi atau kerjasama antara pemerintah, masyarakat dan swasta.
  • Mencari pengetahuan ilmiah dan inovasi baru yang dapat mempengaruhi pencegahan dan penanganan TB

Sumber:

  • WHO, 2016, End TB Strategy: Global Strategy and Targets for Tuberculosis Prevention, Care and Control after 2015, America.
  • Lonnroth, Knut; Raviglione, Mario, 2016, The WHO’s new End TB Strategy in the post-2015 era of the Sustainable Development Goals, Trans R Soc Trop Med Hyg, 110:148-150, Oxford