Agung Wicaksana, lahir pada 15 September 2000 di Surabaya, Jawa Timur. Buku puisi mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini bertajuk Fanatorium (2017). Beberapa puisinya telah tersebar, antara lain di surat kabar Koran Tempo, Riau Pos, Fajar, Radar Mojokerto, Minggu Pagi, Radar Cirebon, Radar Tasikmalaya, Radar Madura, Radar Malang, Radar Banyuwangi, Medan Pos, laman maya Kibul.in dan Tulis.me.  Puisi-puisinya menerima berbagai penghargaan, di antaranya: Nominasi Nasional lomba cipta puisi tingkat nasional Sayembara PENA Kita 2016, Penulis Puisi Terbaik lomba cipta puisi kategori pelajar tingkat nasional Festival Sastra Universitas Gadjah Mada 2017, 100 Terbaik lomba cipta puisi Bulan Bahasa tingkat ASEAN Universitas Negeri Sebelas Maret 2017, Best 100 Work within of The 2nd ASEAN Poetry Writing Competition IAIN Purwokerto 2017, Promising Writer Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2017, 10 Naskah Terbaik Wakatobi Festival 2018, dan juara 5 lomba cipta puisi tingkat nasional Tulis.me 2019. Tahun 2018 Agung mengikuti Temu Penyair Asia Tenggara di Padang Panjang, Kemah Sastra Senyum Lembah Ijen di Banyuwangi, dan Festival Sastra Pematang Siantar. Biografi penulis masuk ke dalam buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia oleh Yayasan Hari Puisi Indonesia tahun 2017. Puisi-puisinya terkumpul ke antologi puisi: kumpulan karya pemenang Sebuah Cerita tentang Menangkap (2016), Meditasi Tulang Rusuk (2016), kumpulan puisi HUT Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara (2017), Surat Tentang Harapan yang Abadi, editor: Eka Budianta (2017), antologi puisi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival The First Drop of Rain (2017), kumpulan sajak penyair ASEAN-2 Pesan Damai Aisyah, Maria, Zi Xing (2018), antologi Puisi Pematang Siantar (2018), antologi puisi nusantara Senyuman Lembah Ijen (2018), antologi puisi TPAT Padang Panjang Epitaf Kota Hujan (2018), dan Laki-laki yang Ingin Jadi Ikan (2019). Agung tergabung ke dalam beberapa komunitas sastra seperti COMPETER Indonesia, Dapur Sastra Jakarta, dan Deo Gratias.

“Doa Seorang Serdadu Sebelum Berperang”
(Karya W.S. Rendra)

Tuhanku, WajahMu membayang di kota terbakar
dan firmanMu terguris di atas ribuan kuburan yang dangkal
Anak menangis kehilangan bapa
Tanah sepi kehilangan lelakinya
Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia

Apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara Waktu itu,
Tuhanku, perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusukkan sangkurku
Malam dan wajahku adalah satu warna
Dosa dan nafasku adalah satu udara.

Tak ada lagi pilihan kecuali menyadari
-biarpun bersama penyesalan-
Apa yang bisa diucapkan oleh bibirku yang terjajah?
Sementara kulihat kedua lengaMu yang capai mendekap bumi
yang mengkhianatiMu, Tuhanku.

Erat-erat kugenggam senapanku
Perkenankan aku membunuh
Perkenankan aku menusukkan sangkurku

_____ Mimbar Indonesia Th. XIV, No. 25 18 Juni 1960

kuhadang matahari
(Darman Moenir)

karena hari seperti ini juga
lihatlah bayang-bayang kita yang kian paniang
seperti menghapus jejak yang tak ada kita tinggalkan
kuhadang matahari karena tidakjuga berkabar
seperti kau dahulu ada bertanya, “kata siapa ?”
dan bila matahari telah bertanya pula seperti itu
ke mana mata kita pandangkan lagi
sementara hari larut, senja pun susut