Pekan ASI Nasional: Budayakan ASI Eksklusif hingga Usia Bayi 6 bulan

Salah satu upaya untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas bayi dan anak yaitu dengan menggalakkan pemberian ASI (air susu ibu) minimal hingga usia 6 bulan. Pemerintah Indonesia pada 2003 sudah menerapkan wajib ASI selama 6 bulan ini. Seperti yang dianjurkan oleh WHO dan UNICEF juga, setelah mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan selanjutnya anak harus diberi makanan padat dan semi padat tambahan selain ASI. Pada UU No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, Pasal 128 disebutkan bahwa selama pemberian ASI pihak keluarga, pemerintah, dan masyarakat harus mendukung ibu secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus. PP No 33 tahun 2012 juga menegaskan kewajiban pemberian ASI pada bayi baru lahir. Seberapa pentingkah ASI? Apa saja manfaat ASI?

ASI (Air Susu Ibu) memiliki faktor protektif dan nutrien yang dapat menjamin status gizi bayi. Selain itu ASI juga berguna untuk mencegah bayi dari berbagai infeksi seperti diare, otitis media, dan ISPA. Kolostrum (ASI pertama) mengandung 10-17 kali lebih banyak zat antibodi dari pada ASI yang keluar setelahnya, untuk itu sangat penting dilakukan inisiasi menyusui dini (IMD) pada bayi baru lahir. Harapannya sistem imun bayi sudah terbentuk sedini mungkin, sehingga angka morbiditas dan mortalitas bisa diturunkan.

Menurut WHO pola pemberian ASI dibagi menjadi 3 kategori:

  1. Menyusui Eksklusif
    Tidak memberikan makanan dan minuman lain, termasuk air putih pada bayi selain ASI,kecuali pemberian obat atau vitamin yang dibutuhkan bayi dan ASI perah diperbolehkan.
  2. Menyusui Predominan
    Pernah memberikan asupan lain selain ASI, seperti air putih dan teh sebagai makanan/ minuman prelakteal sebelum ASI keluar.
  3. Menyusui Parsial
    Memberikan makanan atau minuman selain ASI sebelum bayi berusia 6 bulan, seperti susu formula, bubur, dan lain-lain.

Inisiasi menyusui dini (IMD) sudah digalakkan dan diterapkan pada hampir setiap ibu yang baru melahirkan. IMD dilakukan selama 30-60 menit paska persalinan, dan bertujuan untuk:

  • Membuat bayi lebih tenang dengan adanya kontak kulit bayi dengan ibu
  • Bakteri baik dari kulit ibu yang tertelan saat IMD akan membentuk koloni di kulit dan usus bayi sebagai perlindungan diri
  • Meningkatkan ikatan kasih sayang antara ibu dan bayi dengan adanya kontak kulit
  • Mengurangi perdarahan setelah melahirkan
  • Mengurangi anemia

Meski IMD sudah diterapkan sedini mungkin, namun pemberian ASI secara eksklusif masih jarang ditemui. Pada 2010 hanya terdapat 39,8% ibu yang memberikan ASI secara eksklusif pada bayinya, sekitar 5,1% memberikan secara predominan, dan 55,1% parsial. Pemberian ASI eksklusif bahkan semakin menurun seiring betambahnya usia bayi sebelum mencaai 6 bulan. Hal ini membuktikan kurangnya kesadaran masyarakat khususnya para ibu terkait kepentingan pemberian ASI.

Berikut adalah 10 hal yang menjelaskan tentang pentingnya pemberian ASI menurut WHO:

  1. Manfaat ASI pada 6 bulan pertama kelahiran
    WHO merekomendasikan untuk melakukan IMD dalam 1 jam pertama kelahiran. ASI harus diberikan selama 6 bulan secara eksklusif agar pertumbuhan dan perkembangan bayi dapat tercapai secara optimal. Selain itu dengan ASI eksklusif 6 bulan kesehatan bayi akan lebih terjamin dan kebutuhan nutrisi terpenuhi. Pemberian ASI ini seharusnya dilanjutkan hingga usia 2 tahun, boleh diberi selingan asupan nutrisi lainnya.
  2. ASI mampu melindungi bayi dari infeksi penyakit
    Selain mengandung nutrisi, ASI juga mengandung antibodi yang mampu melindungi bayi dari beberapa infeksi seperti diare dan pneumonia sebelum bayi mampu membentuk antibodinya sendiri.
  3. Manfaat pemberian ASI bagi ibu
    Memberikan ASI dapat menjadi salah satu metode kontrasepsi alami yang efektif dalam 6 bulan setelah persalinan. Selain itu dengan memberikan ASI ibu akan lebih terlindungi dari risiko kanker payudara dan kanker indung telur, DM tipe II dan depresi post partum.
  4. Manfaat jangka panjang ASI bagi anak-anak
    Pada anak dengan riwayat pemerian ASI yang baik dan eksklusif memiliki risiko yang lebih rendah untuk terkena DM tipe II maupun obesitas. Selain itu anak dengan pemberian ASI eksklusif menunjukkan hasil intelektual yang lebih baik daripada yang tidak mendapat ASI secara eksklusif.
  5. ASI mengandung antibodi khusus yang tidak dimiliki oleh susu formula
  6. Penularan HIV melalui ASI dapat dikurangi dengan pemberian obat
    Pada seorang ibu dengan HIV tetap dianjurkan untuk menyusui, namun ditambah dengan konsumsi ARV. ASI dan ARV mampu mengurangi risiko penularan dari ibu ke bayi jika memang bayi belum terinfeksi.
  7. Pemasaran makanan pengganti ASI sangat diawasi
    Semua susu formula yang diberikan pada bayi sebelum usia 6 bulan dapat mempengaruhi kesehatan bayi. Dalam kode internasional, terdapat aturan yang tidak mengijinkan adanya promoi dari susu formula.
  8. Dukungan bagi ibu yang menyusui sangat diperlukan
  9. Asi harus tetap diberikan meski ibu juga bekerja
  10. Makanan pelengkap atau pengganti ASI dapat diberikan jika usia bayi minimal sudah 6 bulan
    Jika makanan/ asupan lain selain ASI diberikan pada bayi sebelum usia 6 bulan, bayi akan lebih rentan terkena infeksi seperti diare. Terlebih jika diberikan ketika bayi sama sekali belum menerima ASI, nutrisi dari kolostrum yang terdiri dari antibodi akan tergantikan. Akibatnya bayi akan semakin rentan dan bisa terkena meningitis ataupun sepstisemia.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Kamran A, et al pada 2011, disebutkan bahwa tingkat edukasi ibu juga mempengaruhi keberhasilan IMD. Pada ibu dengan riwayat pendidikan tinggi angka IMD mencapai 86%. Sedangkan pada ibu dengan riwayat pendidikan rendah hanya mencapai 65%. Selain tingkat edukasi ibu, peran tenaga kesehatan juga  mempengaruhi keberhasilan IMD. Edukasi dari para tenaga kesehatan utamanya perawat terbukti mampu meningkatkan angka keberhasilan IMD, bahkan ditemukan lebih tinggi pada ibu dengan tingkat edukasi yang rendah dari pada ibu dengan tingkat edukasi yang tinggi.  Pada bulan ke-4 setelah persalinan peningkatan pemberian ASI secara eksklusif pada ibu dengan tingkat edukasi rendah menjadi 77,3% dan menurun pada ibu dengan tingkat edukasi tinggi menjadi 47,7%. Hal ini membuktikan intervansi dari tenaga kesehatan berupa pemberian edukasi terkait pentingnya IMD dan pemberian ASI secara eksklusif dapat meningkatkan kesadaran dan pengetahuan ibu, sehingga angka pemberian ASI akan meningkat.

SUMBER: