Baca Puisi Kemerdekaan 2020

Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 75, UGM mempersembahkan Baca Puisi Kemerdekaan oleh Pecinta Puisi UGM. Acara diselenggarakan pada tanggal 14 Agustus 2020 pukul 19.30 – 21.30.

Pembukaan

Pengantar oleh Ketua Masyarakat Pecinta Puisi UGM Heru Marwata, Sambutan Rektor Universitas Gadjah Mada

Baca Puisi Sesi I

CINTA TAK BERTEPI
Karya: Nur Indrianti

Gemerincing bambu runcing
Membelah rona fajar menyingsing
Senyum mengembang pagi merekah
Gemuruh pekik penuh semangat …. ”Merdeka!”

Langkah tegap memanggul asa
Meramu rempah mendulang intan
Negeri elok penuh pesona
Indonesia tanah pusaka

Gugusan pulau panjang membentang
Merangkai indahnya ragam budaya
Menebar istiadat bangsa
Nusantara bak untaian permata

Kualirkan namamu dalam darahku
Meski hantam, pitam, tikam menerpamu
Aku bangga pesonamu
Aku jaga martabatmu Kar’na cintaku tak bertepi ….

Yogyakarta, 1 Agustus 2020

Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng, D.Eng, IPU, ASEAN Eng
Judul : Cinta Tak Bertepi
Karya: Nur Indriani

BULAN MERAH PUTIH
Karya: Sri Penny Alifiya Habiba

Pegiat Literasi Grobogan
Agustus mengutus Kepada seluruh anak negeri
Agustus menitahkan rakyat Indonesia harus tetap merdeka
Agustus berkata jangan sampai rakyat Indonesia terhalang untuk menyuarakan kata
merdeka
Sekali merdeka tetap merdeka
Agustus berpesan agar kemerdekaan ini jangan hanya kenangan
Jangan hanya euphoria tahunan yang berakhir tanpa makna
Napak tilas sejarah bahwa kemenangan ini tak bisa dibeli dengan rupiah
Sebuah perjuangan yang bermandi darah kala itu
Tidak hanya harta benda raga pun jadi taruhannya

75 tahun lalu
Agustus adalah bulan tercabutnya tangis
Bulan terbebasnya nafas dari jepitan tirani
Bulan terbebasnya rakyat Indonesia dari tipu daya Belanda
Agustus adalah adalah bulan yang menjadi saksi kemerdekaan yang tak pernah putus

Agustus berpesan di peringatan kemerdekaan ini sambutlah dengan suka cita
Buatlah parade merah putih
Buatlah barisan muda merah putih
Kibarkan merah putih setingi-tingginya
Dendangkan lagu kemenangan
Teriakkan kata merdeka di pelataran rumahmu
Di gang gang kumuh, di rumah-rumah mewah, di gedung gedung megah, di setiap tempat,
yang kamu lewati
Kepalkan tangan seraya berucap merdeka
Mari kita sambut
Kemenangan jiwa raga
Kebebasan hak dan wewenang tanpa ada kata tapi
Sambut ulang tahun negeri ini dengan suka cita meski pandemi masih merajai negeri
Buktikan bahwa kita rakyat Indonesia akan menjaga merah putih sampai dunia ini di telan bumi

Kibarkan merah putihmu di seluruh penjuru negeri
Agar rakyat pribumi ini bisa lebih dalam mengagungkan bulan Agustus
Mengistimewakan Agustus sebagai bulan merah putih

Yoyakarta, Balairung, 8 Agustus 2020

Sri Penny Alifiya H, S.S, M.Pd
Judul: Bulan Merah Putih
Karya: Sri Penny Alifiya

CORONA DI HARI MERDEKA
Karya: Ons Untoro

“Di hari merdeka ini, kita kembali ke medan perang
segalanya samar dan tegang” kata seorang laki-laki tua, seolah mengenang perjuangan
“Lupakan masa lalu, musuh telah lama berlalu, kita telusuri jejak matahari untuk anak cucu”
ujar perempuan menanggapi.
“Musuh kita sama, sebangsa, sedunia, tak terlihat wajahnya” lagi-lagi laki-laki tua berucap
Perempuan itu tertegun. Tak ada kata diucap
bumi bersedih, dunia berduka
negara-negara kehilangan warga
Indonesia di antaranya

Musuh kita bukan bangsa
makhluk tak kasat mata
kita mengenalinya corona
atau covid 19
tanpa rasa belas
menggigit tubuh penuh iklas

Kita tak bisa bersama
seperti dulu gerilya
menghadapi corona
justru saling pisah
atau tinggal di rumah
corona tak mendekat
kita hidup sehat

Di hari merdeka
kita melupa duka

Di hari merdeka
corona membawa duka

Di hari merdeka
corona memberi tanda
ragam warna satu juga
meski jerak tak bisa ditunda
rasa bersaudara tak hilang muka

Di hari merdeka
mari kita jaga
Satu jua beda-beda
Bhineka Tunggal Ika

Yogya, Agustus 2020

Ons Untoro
Judul: Corona Di Hari Merdeka
Karya: Ons Untoro

MENATAP MERAH PUTIH
Karya: Sapardi Djoko Damono

Menatap merah putih
melambai dan menari – nari di angkasa

kibarannya telah banyak menelan korban
nyawa dan harta benda

berkibarnya merah putih
yang menjulang tinggi di angkasa

selalu teriring senandung lagu Indonesia Raya
dan tetesan air mata
dulu, ketika masa perjuangan pergerakan kemerdekaan
untuk mengibarkan merah putih
harus diawali dengan pertumpahan darah
pejuang yang tak pernah merasa lelah
untuk berteriak : Merdeka!

menatap
merah putih adalah perlawanan melawan angkara murka
membinasakan penidas dari negeri tercinta
indonesia

menatap
merah putih adalah bergolaknya darah
demi membela kebenaran dan azasi manusia
menumpas segala penjajahan
di atas bumi pertiwi

menatap
merah putih adalah kebebasan
yang musti dijaga dan dibela
kibarannya di angkasa raya

berkibarlah terus merah putihku
dalam kemenangan dan kedamaian

Prof. dr. Gandes Retno Rahayu, M.MedEd, PhD
Judul: Menatap Merah Putih
Karya: Sapardi Djoko Damono

PANCASILA FINAL
Karya: Darwito

Saat malam mulai beranjak menuju keheningan
Sukma melayang menerawang entah kemana
Mencari letak kesunyian
Bertemu diskusi imaginer

Saat diskusi dipimpin HOS Tjokroaminoto ” Raja jawa tanpa mahkota”
Sukarno berapi api mengutarakan Nasionalisme
Kartosuwiryo tak kalah bergemuruh mengutarakan Islamisme
Muso dengan suara lantang tentang sosialisme komunisme
Diskusi tak berkesudahan
Semua diam mematung bak batu candi
Hanya suara jangrik malam hari yang menemani
Kesepakatan disodorkan Pancasila untuk menampung ketiganya : Ketuhanan, Nasionalisme,
sosialisme
Ini final …..
Diskusi saya sudahi kata HOS Tjokroaminoto
Sukarno ….Setuju ..
Kau berdua Karto dan Muso …..setuju ( tapi suaranya ditelan malam )

Ok…
Diskusi saya tutup dg hasil kesepakatan
PANCASILA sebagai dasar negara dan itu final tidak boleh diganggu gugat.
Aku terbangun saat ayam berkokok
Dan adzan subuh berkumandang

Dr. dr. Darwito, S.H, SpB(K)Onk
Judul: Pancasila Final
Karya: Darwito

Baca Puisi Sesi II

MERDEKA!
Karya: Chairil Anwar

Aku meniti jalan
Penuh duri nan tajam
Menyusun gurun-gurun
Yang kering nan kerontang

Di mana aku menemukan
Sosok kau sebagai pahlawan
Untuk kemerdekaan
Untuk bangsa

Suara derap langkah
Dari sepatu-sepatu besar
Bersama di medan perang
Bergegas maju di depan
Sepucuk pistol tertembak

Ke arah musuh sebagai penjajah
Hingga mereka tumbang tak berdaya
Hingga mereka tak dapat lagi berlagak

***

Prof. apt. Agung Endro Nugroho, M.Si., Ph.D
Judul : Merdeka
Karya: Chairil Anwar

INDONESIA JAYA
Karya: Novi Indrastuti

17 Agustus 1945
Indonesia menghirup udara kemerdekaan
buah pengorbanan dari tumpah darah
tumpah lara, tumpah duka, tumpah airmata
inilah mahakarya pejuang dengan kesejatian cinta
cinta kepada tanah air, bumi Indonesia

Sang Saka berkelebat di angkasa raya
menuju puncak tiang kemenangan tertinggi
diiringi gema Indonesia Raya yang membahana
menyuarakan keyakinan terpatri dalam dada
hingga terasa bergetar sekujur jiwa dan raga
menyulut kobar semangat yang membara
membawa hati rakyat mencintai negeri ini
membangkitkan daya untuk menancap jejak
masa depan peradaban bangsa dan negara.

Indonesia berbanggalah
Sebab engkau adalah lahan kedamaian rasa
Dari ujung ke ujung terhampar permadani hijau
negeri permai dengan berjuta nyanyian alam
anugerah berjuta kekayaan alam yang meruah
tiap sudutmu mengisahkan cerita yang berbeda
suguhkan aroma keberagaman warna budaya.

Indonesia bersatulah…
mengencangkan temali simpul persaudaraan
menjahit tekad dalam satu asa tujuan
bergandeng erat melampaui titian halang
memadukan derap langkah menjunjung negara
sembari melangitkan doa-doa pengharapan
menuju tahta Indonesia Jaya.

Dr. Novi Indrastuti, M.Hum
Judul: Indonesia Jaya
Karya: Novi Indrastuti

GUGUR
Karya: W.S. Rendra

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Tiada kuasa lagi menegak
Telah ia lepaskan dengan gemilang
pelor terakhir dari bedilnya
Ke dada musuh yang merebut kotanya
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Ia sudah tua
luka-luka di badannya
Bagai harimau tua
susah payah maut menjeratnya
Matanya bagai saga
menatap musuh pergi dari kotanya
Sesudah pertempuran yang gemilang itu
lima pemuda mengangkatnya
di antaranya anaknya
Ia menolak
dan tetap merangkak
menuju kota kesayangannya
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Belumlagi selusin tindak
mautpun menghadangnya.
Ketika anaknya memegang tangannya
ia berkata :
” Yang berasal dari tanah
kembali rebah pada tanah.
Dan aku pun berasal dari tanah
tanah Ambarawa yang kucinta
Kita bukanlah anak jadah
Kerna kita punya bumi kecintaan.
Bumi yang menyusui kita
dengan mata airnya.
Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.
Bumi kita adalah kehormatan.
Bumi kita adalah juwa dari jiwa.
Ia adalah bumi nenek moyang.
Ia adalah bumi waris yang sekarang.
Ia adalah bumi waris yang akan datang.”
Hari pun berangkat malam
Bumi berpeluh dan terbakar

Kerna api menyala di kota Ambarawa
Orang tua itu kembali berkata :
“Lihatlah, hari telah fajar !
Wahai bumi yang indah,
kita akan berpelukan buat selama-lamanya !
Nanti sekali waktu
seorang cucuku
akan menacapkan bajak
di bumi tempatku berkubur
kemudian akan ditanamnya benih
dan tumbuh dengan subur
Maka ia pun berkata :
-Alangkah gemburnya tanah di sini!”
Hari pun lengkap malam
ketika menutup matanya

dr. Datuk Rajo Endah Ronny Roekmito Chaniago, M. Kes
Judul: Gugur
Karya: WS Rendra

AGUSTUS 2020
Karya: Yayi Suryo Prabandari

Tujuh belas Agustus 2020…
Ada yang berbeda..
Betul kita sudah merdeka….
Tujuh puluh lima tahun lamanya……….

Apa yang berbeda?
Tetap berkibar bendera kita….
Tetap ada upacara……

Tetapi…lihatlah di berbagai warta….
Semua sedang waspada…
Melihat berbagai angka
Termasuk kita….

Meski ada upacara…
Meski kibar bendera…
Peserta upacara ada batasnya…
Tempat duduk ada selanya….
Tamu yang datang tak terlalu terlihat siapa…
Tertutup masker pada sebagian mukanya…

Sebagian ikuti upacara lewat dunia maya….
Berdiri dimana saja….
Yang penting ikut upacara…..
Yang penting ada yang tertangkap kamera
Yang penting ada kehadiran di berita acara

tidak ada gegap gempita …
tidak ada berbagai lomba….
Kalaupun ada pesta…
Berlangsung sederhana….
Namun tetap bersahaja

Tujuh belas Agustus 2020
Tidaklah sama dengan tahun sebelumnya…
Setelah hampir lima bulan lamanya…
Kita diminta untuk di rumah saja…
Tidak pergi jika tidak ada alasannya…
Karena kata otorita ada musuh tak kasat mata
Namun berkeliaran dimana-mana
Bisa menyerang siapa saja
Tidak pandang usia, kasta maupun harta
Dan sudah banyak yang berduka
Kehilangan mereka yang dicintainya

Tujuh belas Agustus 2020…
Rasanya seperti sebelum tahun empat lima….
harus bergerilya …..
siapa ngomong apa
Kita dibuat bertanya…
Mana kawan mana lawan….
Mana fakta mana bualan..
Siapa…..jadi pahlawan
Siapa jadi sukarelawan…
Siapa jadi punokawan

Tujuh belas Agustus 2020
Akupun bertanya kembali….
Akankah kita seperti dulu lagi…
Bisa reuni dan bersama menyapa pagi…
Bisa ke sekolah, bermain dan berbagi roti
Cengkerama di kampus mengembalikan sepi
Tujuh belas Agustus 2020
Kutundukkan kepala
Kukirimkan doa
Untuk Indonesia…
Kesekian kalinya
Agar segera terbebas
Dan lepas….
dari penyusup tak kentara…
yang dapat bikin meregang nyawa..

Indonesia pasti bisa
Indonesia pasti merdeka
Doaku
untuk Indonesiaku

Depok, Babarsari 5 Agustus 2020
Yayi Suryo Prabandari

Prof. Dra. R.A. Yayi Suryo Prabandari, MSi, PhD
Judul: Agustus 2020
Karya: Yayi Suryo Prabandari

MASKUMAMBANG
Karya: WS. Rendra

Kabut fajar menyusut dengan perlahan.
Bunga bintaro berguguran di halaman perpustakaan.
Di tepi kolam, di dekat rumpun keladi, aku duduk di atas batu,
melelehkan air mata.

Cucu-cucuku!
Zaman macam apa, peradaban macam apa, yang akan kami wariskan kepada kalian!
Jiwaku menyanyikan tembang Maskumambang.
Kami adalah angkatan pongah.
Besar pasak dari tiang.
Kami tidak mampu membuat rencana menghadapi masa depan.
Karena kami tidak menguasai ilmu untuk membaca tata buku masa lalu, dan tidak
menguasai ilmu untuk membaca tata buku masa kini, maka rencana masa depan hanyalah
spekulasi keinginan dan angan-angan.

Cucu-cucuku!
Negara terlanda gelombang zaman edan.
Cita-cita kebajikan terhempas waktu, lesu dipangku batu.
Tetapi aku keras bertahan
mendekap akal sehat dan suara jiwa,
biarpun tercampak di selokan zaman.
Bangsa kita kini seperti dadu, terperangkap di dalam kaleng utang, yang dikocok-kocok oleh
bangsa adikuasa, tanpa kita berdaya melawannya.
Semuanya terjadi atas nama pembangungan, yang mencontoh tatanan pembangunan di
zaman penjajahan.

Tatanan kenegaraan, dan tatanan hukum, juga mencontoh tatanan penjajahan.
Menyebabkan rakyat dan hukum, hadir tanpa kedaulatan.
Yang sah berdaulat, hanyalah pemerintah dan partai politik.
O, comberan peradaban!
O, martabat bangsa yang kini compang-camping!
Negara gaduh. Bangsa rapuh.
Kekuasaan kekerasan merajalela.
Pasar dibakar. Kampung dibakar. Gubuk-gubuk gelandangan dibongkar.
Tanpa ada gantinya.
Semua atas nama takhayul pembangunan.
Restoran dibakar. Toko dibakar. Gereja dibakar.
Atas nama semangat agama yang berkobar.
Apabila agama menjadi lencana politik, maka erosi agama pasti terjadi!
Karena politik tidak punya kepala. Tidak punya telinga. Tidak punya hati.
Politik hanya mengenal kalah dan menang. Kawan dan lawan.
Peradaban yang dangkal.

Meskipun hidup berbangsa perlu politik, tetapi politik tidak boleh menjamah ruang iman dan
akal di dalam daulat manusia!
Namun daulat manusia, dalam kewajaran hidup bersama di dunia, harus menjaga daulat
hukum alam, daulat hukum masyarakat, dan daulat hukum akal sehat.
Matahari yang merayap naik dari ufuk timur, telah melampaui pohon jinjing.
Udara yang ramah menyapa tubuhku.
Menyebar bau bawang goreng yang digoreng di dapur.
Berdengung sepasang kumbang, yang bersenggama di udara.
“Mas Willy!” istriku datang menyapaku.
Ia melihat pipiku basah oleh air mata. Aku bangkit hendak berkata.
“Sssh, diam!” bisik istriku, “Jangan menangis. Tulis sajak.
Jangan bicara.”

Wahjudi Djaja, S.S, M.Pd
Judul: Maskumambang
Karya: WS Rendra

Baca Puisi Sesi III

PESONA HAYATI INDONESIAKU
Karya: Budi Setiadi Daryono dan Wiko Arif Wibowo

Terbentang alam bumi dan isinya, bak surga mempesona
Mengukir pahatan Tuhan Yang Maha Sempurna
Indahnya… Indonesia

Tersusun ribuan gugusan pulau, bak permata Berkilau
Menelusuri hijaunya hutan dan birunya lautan
Indahnya…. Indonesia

Bertebaran kekayaan dan keanekaragaman hayati
Di darat, laut, dan angkasa, penuh beragam cipta
Menguntai rantai kehidupan yang sempurna
Indahnya…..Indonesia

Kilauan pesona dalam balutan ragam cipta
Teruslah bersatu dan berpadu dalam darah yang menyatu
Dirgahayu….Indonesiaku

Merdeka….Merdeka…Merdeka

Yogyakarta, 7 Agustus 2020

Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc
Judul: Pesona Hayati Indonesiaku
Karya: Budi Setiadi Daryono

DOA SEORANG SERDADU SEBELUM BERPERANG
Karya: WS.Rendra

Tuhanku,
Wajah-Mu membayang di kota terbakar
dan firman-Mu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal

Anak menangis kehilangan bapa
Tanah sepi kehilangan lelakinya
Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia

Apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara

Waktu itu, Tuhanku,
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusukkan sangkurku

Malam dan wajahku
adalah satu warna
Dosa dan napasku
adalah satu udara.
Tak ada lagi pilihan
kecuali menyadari
biarpun bersama penyesalan

Apa yang bisa diucapkan
oleh bibirku yang terjajah?
Sementara ku lihat kedua lengan-Mu yang capai
mendekap bumi yang mengkhianati-Mu

Tuhanku
Erat-erat kugenggam senapanku
Perkenankan aku membunuh
Perkenankan aku menusukkan sangkurku

Umi Kulsum, SPd
Judul: Doa Seorang Serdadu Sebelum Perang
Karya: WS Rendra

GERILYA…
Karya: WS Rendra

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling di jalan
Angin tergantung
terkecap pahitnya tembakau
bendungan keluh dan bencana

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling di jalan
Dengan tujuh lubang pelor
diketuk gerbang langit
dan menyala mentari muda
melepas kesumatnya

Gadis berjalan di subuh merah
dengan sayur-mayur di punggung
melihatnya pertama
Ia beri jeritan manis
dan duka daun wortel

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling di jalan
Orang-orang kampung mengenalnya
anak janda berambut ombak
ditimba air bergantang-gantang
disiram atas tubuhnya

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling di jalan
Lewat gardu Belanda dengan berani
berlindung warna malam
sendiri masuk kota
ingin ikut ngubur ibunya.

1955
-Siasat, Th IX, No. 42

Drs. Arif Nurcahyo, MA, Psikolog
Judul: Gerilya
Karya: WS Rendra

UNTUK MEREKA YANG MENCABIK LUKA INDONESIA
Karya: Esti Nuryani Kasam

Luas wilayah kita menyediakan ladang penghidupan darat dan laut.
Sudahlah berlebih untuk hidup berukur cukup.
Berbagai tanaman dan hewan tak terhitung banyaknya.
Mencipta makanan di periuk dapur aneka rupa.

Tidakkah kita perlu menengok sejarah meski sekilas?
Penjajah menjarah nusantara, merampok dan menindas.
Lalu, seperti cerita-cerita usaha kelompok manusia yang menolak kalah.
Masa-masa keterdesakan itu melahirkan para pahlawan pemberani, menyabung nyawa,
pantang menyerah.

Negeri kita memakan korban rakyat, terbunuh pada persalinan kemerdekaan.
Luka dan air mata menyisa pada sepanjang waktu bertumbuh kembang.
Namun hari ini, setelah sekian waktu berlari, menebar benih agar hidup sejahtera.
Para pengkhianat mencoba menjatuhkannya atas nama kuasa surga kelompoknya.

Tuhan, ijinkan kami menuding dengan segenap kata yang kami miliki.
Kampung halaman ini bagi para petualang dunia, menguncupkan rasa jatuh hati.
Apalagi anak cucu ibu pertiwi yang menyusu pada tanah airnya.
Tentu dengan sigap mengasah senjata dalam segala bentuknya.

Mengancam pada mereka yang tak bernaluri dan berakal budi.
Berjiwa kering, miskin simpati akan perjuangan negeri ini.
Sebentuk penyakit yang sehausnya dibasmi tanpa meninggalkan akar yang boleh jadi
bertunas di masa datang.
Untuk kalian yang mulai mencabik luka Indonesia, kembali mengucurkan darah perang.

(Ponjong, Gunungkidul: 06 Agustus 2020)

Esti Nuryani Kasam, S.S, M.A
Judul: Untuk Mereka Yang Mencabik Luka Indonesia
Karya: Esti Nuryani K

“Maskumambang Panyirep Pageblug” &
KATA MERDEKA
Karya: Heru Marwata

Gusti Mahasuci Kang Murbeng Dumadi
Mugya paring srana
Ambrasta pageblug niki
Saking bumi Nuswantara

Jer titah sawantah sakdermi nglampahi
Kamula maminta
Nugraha Illahi Robbi
Nyirep sakehing memala

KATA MERDEKA (Heru Marwata)

“Merdeka”, gemuruh suara segenap anak bangsa, kira-kira 75 tahun lalu
“Merdeka merdeka merdeka …”, pekik ini telah kita dengar selama puluhan tahun
“Kita sudah merdeka, Cu”, kata kakekku, kira-kira 50 tahun lalu
“Kita sudah merdeka, Nak”, kata ayahku, kira-kira 45 tahun lalu
“Kita sudah merdeka, Mam”, kubilang pada istriku, kira-kira 25 tahun lalu
“Kau sudah merdeka, Bang”, kataku pada anak pertamaku, kira-kira 2 tahun lalu

Kata MERDEKA itu
Begitu signifikan
Begitu keras
Begitu lugas
Begitu jelas
Tetapi juga
Begitu saja
Begitulah …

Berliku jalan merdeka: kita telah mengalaminya, sebagai bangsa
Beribu jalan untuk memperjuangkannya: kita sudah mencapai dan menikmatinya
Mungkin saja, beribu-ribu tafsir bisa kita terakan atasnya
Bahkan, bisa jadi, berjuta tanya pun dapat kita ajukan tentangnya
Satu ini saja bisa mengundang banyak jawaban: benarkah kita sudah merdeka?

Enam bulan waktu kita telah dirampas dan ditelan
Penjajahan corona, COVID-19, telah menyengsarakan
Banyak aspek kehidupan diporakporandakan
Ternyata dari corona saja saat ini kita belum mendapatkan kemerdekaan
Semoga seiring peringatan tujuh belasan
Makin banyak kisah inspiratif dapat dibukukan
Makin banyak pengalaman hidup dapat diajarkan
Makin dewasa bangsa kita menghadapi tantangan
Makin sadar pula kita betapa pentingnya perjuangan
Bahkan untuk melawan musuh yang tidak kelihatan

Mari kita satukan yang telah terpisahkan
Mari kita pisahkan yeng mengganggu persatuan
Mari kita maknai kata merdeka, “merdeka”, dan ‘merdeka’
Mari kita nikmati, kita syukuri, dan kita jaga sepenuh jiwa

Salam tahoe boelat dari #pondokilusikatatanpaarti, Yogyakarta, 07 Agustus 2020

Drs. Heru Marwata, M.Hum
Judul: Kata Merdeka
Karya: Heru Marwata

Penutup

Kata penutupan oleh produser program: Laksono Trisnantoro, Lagu dan Puisi Kebyar-Kebyar Kolaborasi dokter alumni FK UGM Angkatan 1980 dan alumni FKUI angkatan 1980