[info_post_meta]

Term of Reference
Dalam rangka Annual Scientific meeting (ASM) Fakultas Kedokteran 2017

Kelompok Kerja (Pokja) Bencana FK UGM bekerjasama dengan
Divisi Manajemen Bencana Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan FK UGM
Menyelenggarakan seminar mengenai:

Penggunaan Logistik Medik Pada Bencana :
Study Kasus Tetanus Pada Gempa Bumi Yogyakarta tahun 2006

Kamis, 9 Maret 2017
Gedung Senat Lantai 2 KPTU Fakultas Kedokteran UGM

i.underlineGempa Tektonik yang mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya pada Sabtu, 27 Mei 2006 pukul 05.55 WIB selama 57 detik merupakan gempa terbesar setelah peristiwa gempa pada 23 Juli 1943 di wilayah yang sama. Yogyakarta merupakan daerah yang rawan terhadap gempa bumi, disamping karena faktor goncangan gempa yang cukup besar yaitu 5,9 Skala Richter, ternyata bangunan di Yogyakarta umumnya tidak dirancang tahan gempa sehingga jumlah korban dan kerugian menjadi cukup besar, baik korban nyawa maupun kerugian harta benda.

Pada Gempa Tektonik tahun 2006 banyak korban yang meninggal  karena tetanus. Penderita tetanus umumnya menderita luka akibat tertimpa reruntuhan bangunan dan terkena benda tajam. Sebanyak 27 orang korban gempa di kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta meninggal akibat tetanus. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul pada saat itu, sekitar 75 persen dari 36 korban gempa yang menderita tetanus meninggal dunia.

Menurut Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan gempa Aceh memiliki kemiripan dengan gempa Yogyakarta pada 2006 lalu. Kedua gempa sama-sama disebabkan aktivitas sesar yang bersifat mendatar. Perbedaan kedua gempa hanya terletak pada waktu berlangsungnya goncangan. Gempa Aceh terjadi dalam waktu 15 detik sementara gempa di Yogyakarta terjadi selama 57 detik. Diperkirakan banyak  korban yang tertimbun reruntuhan bangunan.

Logistik medik, seperti obat-obatan, peralatan medis habis pakai, peralatan untuk tindakan medik, maupun peralatan perawatan, merupakan penunjang utama tindakan medis mulai dari yang ringan sampai yang berat (operasi besar). Seperti kejadian bencana gempa di DIY (Bantul), Jawa-Tengah (Klaten) dan Aceh (Pidie Jaya) banyak sekali tindakan operasi yang cukup besar, seperti kasus-kasus traumatik (patah tulang) dan kasus tetanus sangat memerlukan tindakan cepat. Untuk pengelolaan logistik medik diperlukan suatu tim yang terkoordinasi dan jaringan informasi antar posko atau pengguna logistik medik dengan demikian pada fase preparedness dan response dapat dipersiapkan dan direncanakan logistik medik yang sesuai kebutuhan, jumlah yang mencukupi, suplai logistik medik yang terjamin serta terinventarisasi dengan baik.
Melalui rangkaian kegiatan Annual Scientific Meeting Fakultas Kedokteran UGM tahun 2017 yang bertemakan “Pencegahan dan Pengendalian Resistensi Antimikroba”, maka Pokja Bencana FK UGM bekerjasama dengan Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM bermaksud menyelenggarakan seminar yang berjudul “Penggunaan Logistik Medik Pada Bencana: Studi Kasus Tetanus pada Gempa Yogyakarta untuk Pencegahan Tetanus pada Gempa Pidie Jaya 2016”. Melalui seminar sehari ini, kita akan membahas mengenai kebijakan logistik medik dan logistik non medik pada bencana yang digunakan terutama untuk kasus-kasus tetanus. Diharapkan penanganan kasus tetanus di Yogyakarta bisa menjadi pembelajaran bagi penanganan kasus tetanus di Aceh dengan koordinasi tim kesehatan dan logistik kesehatan yang lebih baik lagi.

Seminar Penggunaan Logistik Medik pada Bencana:
Study Kasus Tetanus pada Gempa Yogyakarta untuk Pencegahan pada Gempa Pidie Jaya 2016

Kamis, 9 Maret 2017
Gedung Senat Lantai 2 KPTU Fakultas Kedokteran UGM

i.underline

pmbukaan1

Seminar rutin tahunan yang diselenggarakan kerjasama antara Pokja Bencana FK UGM dengan Divisi Manajemen Bencana PKMK FK UGM ini merupakan partisipasi dalam rangka Annual Scientific Meeting FK UGM setiap tahunnya. Tahun 2017, Pokja Bencana mengambil tema yang lebih spesifik, merujuk pada tema ASM Pusat, yakni tentang penggunaan logistik medik dalam bencana.

Permasalahan logistik dalam bencana menarik untuk didiskusikan sebab penggunaan dan pendistribusian yang tidak tepat dapat menimbulkan masalah kesehatan. Berbeda dengan seminar-seminar sebelumnya, seminar kali ini kita fokus pada satu kasus yakni kasus tetanus, kata dr. Handoyo Pramusinto, Sp.BS selaku Ketua Pokja Bencana FK UGM dalam sambutannya.

pmbukaan2dr. Handoyo mengapresiasi kepada seluruh peserta, klien, dan pemerhati bencana semuanya yang berhadir secara langsung ataupun yang melalui webinar dalam seminar ini. Kita membutuhkan diskusi dan sharing yang banyak dari seluruh rekanan bencana dalam seminar ini.

Sambutan dan pembukaan disampaikan oleh dr. Mei Neni Sitaresmi, SP. A(K), Ph.D selaku perwakilan dekanat FK UGM. Beliau mengatakan bahwa upaya kesiapsiagaan bencana sangat dibutuhkan agar penanganan respon dan pasca bencana lebih optimal, salah satunya dengan penyiapan logistik. Kaitannya dengan kasus tetanus pada kejadian gempa menarik untuk dibahas karena berkaitan sekali dengan ketersediaan logistik vaksin misalnya, bagaimana perencanaan, pendistribusian, dan cakupannya pada masa bencana.

pmbukaan3

Harapan beliau seminar ini menjadi pembelajaran yang bagus karena mempertemukan antara guideline dan kebijakan yang ada dengan pengalaman rekan sekalian di lapangan pada saat bencana. Bisa jadi dari seminar ini nantinya didapatkan masukan upaya perbaikan penanganan logistik medik pada saat bencana kedepannya.

Reportase: Madelina A